Lima Puisi Rudi Fofid

oleh -6 views
Link Banner

SYAIR ORANG KAMPUNGAN

kami datang dari udik
mama biang iris tali pusat kami
pakai sembilu

kampung kami amat perawan
malaikat sering mandi
dewa-dewi tamasya

rimba raya, gunung mulia, sungai lagu, laut ajaib
semuanya hanyalah kamar-kamar
tempat kami sederhanakan hidup

kalau orang kota datang
kami sambut bagai raja
barang dan jasa, semua cuma-cuma

Link Banner

kami suka orang kota
baju, sepatu, tustel, pisau cukur
pomade, logat, semua itu pesona
kalau orang kota pergi
kami antar dengan air mata
kami kenang mereka secara kaya raya

batin kami kenal dua kasta orang kota
satunya pembela dan pembina kami
Satunya pecah-belah dan binasakan kami

kami lugu tetapi orang kota itu lucu
kalau kami ke kota, jadilah berita
mereka tatap ujung kaki sampai ujung rambut kami

kalau kami bicara dengan nada-nada kampung
mereka tertawa geli sampai bertahun-tahun
seakan lagu bahasa kami itu satu kesalahan budaya

kami diperkenalkan pada kota
beginilah kota, kencing bayar, parkir bayar
beginilah kota, tidak ada mangga dan pepaya gratis

banyak orang kota berhati putih
mereka inilah para pembela dan pembina kami
jika bertemu, mereka ingin gendong kami

tidak sedikit orang kota berhati hitam
mereka pecah-belah kami dan mau binasakan kami
jika bertemu, mereka ingin bius kami

kami orang kampung kecil
tetapi kami punya mimpi besar
maka kami belajar melihat dunia

ketika kami sanggup melihat ketidakadilan
ketika kami ikut protes dalam unjuk rasa
kami diserang kata-kata payah: kampungan

dulu, kami pernah sesali takdir
mengapa lahir di udik
bukankah itu abadi di akta kelahiran
kini, setelah kami kenal dunia
barulah kami mengerti
kampung kami adalah surga yang diperebutkan

maka atas nama tanah kami
atas nama nenek moyang kami
kami akan kembali jadi anak kampung nan udik

kami akan pergi ke batu baboso
bicara dengan orang baboso-baboso
dalam bahasa sirih, pinang, kapur, gobang

o penjaga tanah, penjaga rimba
penjaga gunung, penjaga laut
berpihaklah pada kesucian

jika ada orang ke kampung kami
sambil lirik tanah kami dengan mata culas
bawa dia ke kubur walau belum waktunya

Baca Juga  Polres Kepulauan Aru Imbau Warga Terkait PSBB

jika ada orang ke kampung kami
sambil elus tanah kami dengan doa tulus
antar dia ke pintu eden, pada waktunya

kami datang dari udik
mama biang iris tali pusat kami
pakai sembilu
kami tahu, kami berdiri di garis tepi kesunyian
kami telungkup di halaman belakang ketertinggalan
kami sedang berjalan di jalan pincang ketidakadilan

kami curahkan tetes-tetes syair kampungan ini
di atas daun-daun keladi dan daun-daun salam
di bawah pohon damar dan kenanga terakhir

kami percaya, dari seribu anak kami yang ke kota
kelak ada satu-dua anak kembali ke kampung
mereka akan menjelma anak-anak baboso

di atas tanah-tanah baboso
orang kampung akan jaga isi tanah
agar pohon seho terus tumbuh ke langit

dari sana, orang kampung kirim rampa-rampa
padi, ubi, sayur, kelapa, gula merah, ikan, ternak
agar orang kota kenyang, bahagia, walau lupa kampung

dari sana, orang kampung kirim kayu ke kota
agar dibuatkan rumah kayu dan ranjang kayu
tempat orang kota tinggal bulan madu, walau lupa kampung

kami orang kampung
sekali udik tetap udik
orang kota sebut kami kampungan, anjay!

Ambon, 9 Oktober 2020

=========


DI NEGERI YANG TIDAK SUDI ADIL

Di negeri yang tidak sudi adil ini
Sageru begitu pahit
Anggur begitu manis
Sopi ditumpahkan ke tanah asam
Agar anggur bisa naik takhta mulia
Aren begitu terkutuk
Anggur begitu agung

Jika orang kampung ke kantor pakai sandal jepit
Petugas suruh pulang pakai sepatu
“Jangan kampungan,” katanya dengan mata menyala
Jika si pirang datang dengan ketek gondrong berjuntai
Petugas membungkuk bagai orang Jepang
“Plis mester, plis mester!” Katanya sambil buka sepuluh jari
Lalu mereka berebut minta foto bersama
Sebelum diantar ke ruang kepala kantor

Di negeri yang tidak sudi adil ini
Pohon-pohon lurus ditebang habis
Tinggallah pohon-pohon miring
Jika investor datang
Pembesar di sini menjamu dengan menu dewa-dewi
Walau sebenarnya investor pakai taktik kuno
Menjadikan orang-orang di sini sebagai budak bedinde
Jika orang-orang di sini datang
Pembesar di sini menjamu dengan angin surga
Walau sebenarnya orang-orang di sini sederhana saja
Merawat rimba dan laut agar seluruh bangsa bisa makan patita

Baca Juga  Senator Namto Roba Sumbang APD untuk 18 Puskesmas di Halmahera Utara

Di negeri yang tidak sudi adil ini
Kritik yang menghidupkan dianggap sebagai belati
Puji yang mematikan dianggap sebagai melati
O bagaimana menulis puisi alelujah
Dan membacakannya sebagai api suci
Di hadapan wajah-wajah arang dan abu
Di hadapan bola-bola mata layu
Di hadapan tenggorokan yang haus keadilan?

Di negeri yang tidak sudi adil ini
Suara mahasiswa dinyatakan tidak santun dan boleh dipecat
Sedangkan senyum tikus-musang di TV adalah wibawa
Maka sudah selayaknya lahir banyak anak zaman
Harus lahir banyak penyair dan penyanyi jalanan
Bukan penyair romantis dan biduan istana

Di negeri yang tidak sudi adil ini
Bahkan jika ada nabi lagi, dia tidak akan disalibkan
Sebab sang nabi lebih dulu gantung diri agar cepat pulang ke sorga
Karena frustrasi menegakkan benang basah keadilan

Hukunalo, 24 September 2020

=======

RIWAYAT CAMAR

Memang lebih baik menangis di setiap kepak sayap tetapi akhirnya tersenyum di pangkuan Upu Lere
Dari pada tertawa sepanjang umur camar tetapi menangis kekal di sepanjang umur Upu Lere.

Ambon, 30 Agustus 2020

========

KAKARLAK DI KAKUS

Beta cuma baku sedo
Ale itu yakis bacan
Ale itu kusu potar
Ale tersinggung sampee
Serasa harga diri diinjak-injak
Ale memang begitu
Sadiki-sadiki, tersinggung
Sadiki-sadiki harga diri diinjak orang
Akan tetapi saat perampok tampan bernama investor datang mencukur bulu ketek ibumu, ale malah minum jeruk dingin dengan dia
Ale bilang ini padat karya
Ale bilang ini punya multiplyer effect
Lalu ale baku polo dengan perampok itu
Merambah rahim ibumu
Saat para investor goyang reggae di atas tanah nenek moyangmu
Ale dilarang masuk
Ale mengaku anak kampung sini
Asli-asli, bukan orang dagang
Tapi ale diusir lalat investasi
Ale minggir
Jauh
Jang dapa lap timah panas
Tapi ale sondor tersinggung
Sondor merasa harga diri diinjak-injak
Ale justru pergi sio-sio
Agar bisa jadi bedinde
Jongos budak pesuruh
Di atas tanah sendiri
Ale bangga dengan seragam babu, tanda pengenal babu, daftar hadir babu, dan gaji harian babu.
Waktu anak-anak kampung unjuk rasa
Melawan majikanmu yang perampok
Ale berdiri dengan muka brood
Serasa anak-anak mau ambil ale punya piring kentang dan keju
Sioh sayang
Kalau beta bilang ale yakis bacan, ale marah
Kalau beta bilang ale kusu potar, ale maraju
Kalau begitu, beta sebut saja yang sebenarnya
Ale itu kakarlak yang terjebak di leher angsa
Kakus bangsa

Baca Juga  Medco Energi Tertarik Beli 35% Saham Shell di Blok Masela

Ambon, 31 Agustus 2020

=======

REVOLUSI HITAM

Mari kita awali segala dengan bakar batu
Agar bergetarlah jiwa-jiwa beku yang terpenjara ragu
Biarlah cair jadi kibar kobar lidah-lidah api
Biarkan bara perlawanan membakar iklim

Jika asap putih sudah berbuah jamur
Di batas taman sagu dan rimba matoa
Percayalah, revolusi sudah terbakar
Mari buang badan, kita ganjang junta sekalipun

Ini revolusi koteka
Tubuh boleh bugil tapi jiwa tak mungkin gigil
Sebab kami masih sisakan rasa malu
Dalam keharuman minyak lintah

Ini revolusi noken
Perempuan yang mengasuh satu bangsa
Menggendong pada seluruh perjalanan
Ingat, perempuan bisa jungkir balik medan

Ini revolusi cendrawasih
Tarian elok yang mencabik
Tanpa tetes darah
Tetapi sanggup kibar bendera di langit

Ini revolusi hitam
Dari kegelapan kulit sejarah
Kami unjuk gigi paling putih
Sebagaimana isi jantung hati kami

Ini revolusi mace-mace janda
Setelah pace-pace dirampas dari pelukan
Dibawa pergi dan hanya sisa ampas nama
Tanpa bunga, tanpa nisan

Ini revolusi monyet
Nama dan kepala kami dicoret
Dari satu spesies yang sombong
Maka monyet harus merdeka di rimbanya sendiri

O tunee, tunee o
Pergilah ke surgamu
Katakan revolusi hitam sudah dimulai
Kita butuh banyak doa dari bibir Tuhan

O tunee, tunee o
Menarilah dalam konfigurasi cendrawasih
Di langit venus yang molek
Agar kami percaya, bintang kejora bukan bunga mimpi

Ambon, 75 tahun di katulistiwa

======