ketika kami sanggup melihat ketidakadilan
ketika kami ikut protes dalam unjuk rasa
kami diserang kata-kata payah: kampungan
dulu, kami pernah sesali takdir
mengapa lahir di udik
bukankah itu abadi di akta kelahiran
kini, setelah kami kenal dunia
barulah kami mengerti
kampung kami adalah surga yang diperebutkan
maka atas nama tanah kami
atas nama nenek moyang kami
kami akan kembali jadi anak kampung nan udik
kami akan pergi ke batu baboso
bicara dengan orang baboso-baboso
dalam bahasa sirih, pinang, kapur, gobang
o penjaga tanah, penjaga rimba
penjaga gunung, penjaga laut
berpihaklah pada kesucian
jika ada orang ke kampung kami
sambil lirik tanah kami dengan mata culas
bawa dia ke kubur walau belum waktunya
jika ada orang ke kampung kami
sambil elus tanah kami dengan doa tulus
antar dia ke pintu eden, pada waktunya
kami datang dari udik
mama biang iris tali pusat kami
pakai sembilu
kami tahu, kami berdiri di garis tepi kesunyian
kami telungkup di halaman belakang ketertinggalan
kami sedang berjalan di jalan pincang ketidakadilan
kami curahkan tetes-tetes syair kampungan ini
di atas daun-daun keladi dan daun-daun salam
di bawah pohon damar dan kenanga terakhir
kami percaya, dari seribu anak kami yang ke kota
kelak ada satu-dua anak kembali ke kampung
mereka akan menjelma anak-anak baboso




