
“Yang menarik, selama perjalanan peserta wajib mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Seperti Benteng, tempat Keramat, dan destinasi wisata. Peserta wajib foto lalu di posting di akun sosial media selama perjalanan yang di singgahinya,” tutur Drakel.
Setelah melalui perjalanan selama 3 Hari Peserta berkumpul di Desa Waigoyofa desa yang dulunya tempat pertemuan masyarakat Sula. Peserta di jamu makan malam dan menginap di Desa ini. Besoknya, peserta melanjutkan perjalanan kurang lebih 70 Km lagi ke finish.

Pelaksanaan event ini, juga mendapatkan dukungan dari GenPI Maluku Utara. Tim GenPI Malut bahkan menerjunkan tim untuk meliput dan memperkenalkan festival ini ke media sosial.
Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Rizki Handayani memberikan apresiasi atas terlaksananya Ritual Gabalili Hai Sua.

“Ini menjadi upaya Kepulauan Sula untuk menjaga sebuah tradisi. Momennya juga tepat, saat Festival Maksaira 2019. Dengan festival ini, Kepulauan Sula bukan hanya melestarikan. Tetapi sudah menjadikan Gabalili Hai Sua sebagai atraksi. Jika dikemas dengan baik, kegiatan bisa menarik lebih banyak wisatawan. Apalagi, ritual mengunjungi lokasi-lokasi wisata di Kepulauan Sula,” paparnya.




