Oleh: Denny Indrayana, Advokat Indonesia dan Australia
Bapak Presiden Prabowo, selamat Minggu pagi.
Izinkan saya bersurat lagi. Seperti biasa: apa adanya saja.
Ada dua kegemaran bapak yang belakangan membuat saya deg-degan. Pertama, sering bepergian ke luar negeri. Kedua, berpidato berjam-jam di dalam negeri—terutama ketika sudah meninggalkan teks resmi.
Setiap Bapak mulai berimprovisasi, saya membayangkan para staf menahan napas. Mereka mungkin tersenyum di barisan depan, tetapi jantungnya berlari ke mana-mana. Takut ada lagi kalimat yang melompat dari podium, lalu menjadi berita sebelum pidatonya selesai.
Yang gembira tentu wartawan dan warganet. Ada bahan baru. Ada potongan video baru. Ada lagi yang membuat kita tertawa—sayangnya, belum tentu membuat kita bangga.
Dino Patti Djalal pernah meminta Bapak mengurangi kunjungan ke luar negeri. Saya punya permintaan lain: kurangilah pidato panjang di dalam negeri. Jangan tertipu tepuk tangan relawan yang meminta Bapak terus bicara. Bisa jadi mulut mereka berteriak “lanjutkan”, tetapi hati kecilnya berbisik lirih, “berhenti, Pak.”
Indonesia memerlukan Presiden yang gesit beraksi, bukan terlalu lama berorasi.
Lalu tibalah pidato pada puncak Hari Lahir ke-28 PKB. Dari podium, Bapak berkata:









