Sebagai tentara, Bapak mestinya terlatih membaca peta pertempuran. Musuh tidak selalu berada di luar pagar. Kawan tidak selalu duduk di dalam lingkaran. Mereka yang berteriak mengingatkan belum tentu lawan; mereka yang diam mengamini belum tentu kawan.
Lawan tidak selalu oposisi. Kawan tidak selalu koalisi.
Koruptor, Bapak Presiden! Merekalah pengkhianat bangsa yang sesungguhnya.
Mereka jelas tidak duduk di bangku oposisi yang sulit memperoleh proyek Makan Bergizi. Koruptor ada di lingkaran koalisi Bapak sendiri. Mereka menyamar menjadi menteri, Jampidsus, Kepala BGN. Mereka menjadikan kekuasaan sebagai bunker perlindungan. Bertopeng seolah alim menjadi pejabat, aparat penegak hukum, oligarki-haji pencari proyek, bahkan pembisik sehari-hari.
Yang pasti, kritik adalah vitamin bagi kekuasaan. Dalam kondisi negara yang sedang sakit, dosisnya perlu ditambah—bukan dibeli, bukan dikriminalisasi, apalagi dihabisi, meskipun hanya sebatas kata-kata melalui podium orasi.
Ingat Bapak Presiden, pemimpin yang senang dipuji tapi meradang dikritisi akan lebih rentan diberhentikan oleh rakyatnya, pemilik republik yang sebenarnya. Kritik adalah cara rakyat mengingatkan Presiden bahwa mandat hanyalah titipan. Titipan itu sementara. Kesabaran rakyat pun ada batasnya. Republik bukan hak milik Presiden. Republik adalah milik rakyat.









