Oleh: Ahmad Ibrahim, Jurnalis Senior
Nama-nama produk kerajinan ataupun asesoris yang berkaitan dengan seni kaligrafi Islam seperti hiasan dinding, gelang, pakaian ataupun busana muslim, baju koko, dll. yang dijual di sepanjang pertokoan, mall, atau swalayan, di Kota Makkah dan Madinah selama musim haji hampir pasti didominasi oleh produk dengan label: Made in Cina.
Rupanya hubungan bisnis ribuan tahun silam melalui perdagangan Jalur Sutra antara Arab dan Cina — yang juga sampai ke Asia Tenggara — telah menjadikan begitu mudah dijumpai produk-produk asal Negeri Tirai Bambu yang merambah pada dua kota suci umat Islam itu.
Cina memang hebat. Tidak salah kalau ada selentingan mengatakan Cina rajanya dagang.

Jika model transaksi perdagangan orang-orang zaman dulu selalu diawali di muara sungai atau di bibir pantai — tidak dengan Makkah dan Madinah. Di sana transaksi jual beli justeru di wilayah yang dikelilingi oleh bukit, pegunungan, dan padang pasir. Dan semua produk yang dijumpai di sana pasti didominasi oleh produk Cina.
Nama Cina dalam hubungan perdagangan dengan Jazirah Arab sudah berlangsung ribuan tahun. Dalam berbagai riwayat disebutkan, terbukanya Jalur Sutra sebagai pertanda hubungan bisnis kedua negara sudah ada sejak lama.








