Barang-barang atau makanan yang diperdagangkan pun relatif mengikuti selera pasar. Tentu sesuai tempat dan kebutuhan pembeli para jamaah haji. Yang datang berbelanja atau transaksi barang tidak saja dari berbagai daerah di Indonesia tapi juga dari beragam suku dan ras ada di sana.
Transaksi semacam ini mengisyaratkan pada kita bahwa selain menjadi ladang bisnis, ternyata melalui perdagangan juga ikut memperkuat silaturahmi antarrumpun dan ras.
Selain menjual produk asesoris, pakaian, dan kaligrafi Islam, suasana pasar musiman di Kota Makkah dan Madinah juga membawa berkah bagi para mukimin (pendatang) Indonesia dan mukimin asal negara tetangga Arab Saudi. Juga pendatang dari India, Bangladesh dll. Mereka ini umumnya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT).
Bila musim haji tiba mereka “nyambi” menjadi penjual makanan atau pedagang asongan di pasar-pasar dadakan. Kedatangan jamaah haji ternyata ikut membawa berkah bagi mereka. Di sepanjang jalan di depan hotel-hotel berbintang terlihat jajanan khas Indonesia dijual oleh para pedagang asongan.
Setiap pagi atau selepas salat subuh mereka berjubel menawarkan beragam jenis hasil usaha makanan dan barang kepada jamaah haji.









