Mangente Kampung tidak dimaksudkan sebagai forum seremonial. Ia dirancang sebagai ruang reflektif, kritis, dan setara, tempat warga menjadi subjek utama dalam percakapan tentang demokrasi. Ke depan, kegiatan ini akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai wilayah Maluku sebagai bagian dari upaya literasi dan pendidikan politik.
Konsistensi ini penting agar kesadaran demokrasi tidak bersifat sesaat, melainkan tumbuh sebagai budaya politik yang berakar kuat di masyarakat. Masa depan demokrasi di Maluku sangat ditentukan oleh sejauh mana kita merawat kesadaran politik sejak dari tingkat paling dasar. Ketika kampung benar-benar menjadi pusat demokrasi yang hidup dan inklusif, maka Pemilu dan Pilkada bukan sekadar agenda lima tahunan, melainkan proses bersama dalam menjaga martabat demokrasi di Bumi Raja-Raja. (**)









