Oleh: Khairuz Salampessy, Pegiat lingkungan
Ia tidak dibangun—ia dinyalakan. Masohi tidak muncul dari garis-garis peta birokrasi, tapi dari bara yang ditiup langsung oleh mulut seorang proklamator. Di tengah hutan yang belum jinak dan laut yang belum diberi nama, Sukarno menancapkan kata “Masohi” bukan sebagai label, tapi sebagai takdir. Sebuah seruan, sebuah sumpah, sebuah perintah: bekerja bersama, hidup bersama, bertahan bersama, bersama-sama. Kota ini tidak lahir untuk dihias, tapi untuk bertahan. Tidak untuk mencakar langit, tapi untuk mencengkeram tanah.
Tak ada gedung tinggi di Masohi. Tak perlu. Langitnya terlalu jujur untuk ditusuk beton. Di hadapannya, laut membentang seperti altar sunyi yang menyimpan doa-doa paling tua. Di belakangnya, bukit karang berdiri sebagai saksi dan penjaga. Kota ini tumbuh bukan dari cetak biru, melainkan dari kesabaran, dari tangan-tangan yang bekerja dalam senyap, dan dari luka yang disulap jadi kekuatan.
Di kelurahan-kelurahan—Ampera, Lesane, Letwaru, Namaelo, Namasina—hidup mengalir dalam ritme yang tak dibuat-buat. Mama-mama di pasar adalah denyut pertama yang membangunkan kota ini setiap hari—suara yang tidak ditulis di dokumen, tapi hidup di antara bau tanah basah dan harga yang terus berubah.









