Oleh: Khairuz Salampessy, Pegiat lingkungan
Di balik gemuruh ombak pulau Seram, Maluku Tengah berdetak pelan tapi penuh luka. Di sana, desa-desa berdiri seperti jalanan kota Masohi yang kadang redup kadang terang. Mereka kaya akan alam, tapi sering dirampas oleh kemiskinan struktural. Dana desa, yang semestinya menjadi denyut baru kehidupan, seringkali menjelma ilusi. Hadir dalam angka-angka di baleho, tapi hilang dalam kenyataan.
Dari Salahutu yang padat dan riuh hingga Seram Utara dengan pantainya yang memukau dan tenang, dari Saparua yang menyimpan jejak sejarah sampai ujung Seram Selatan yang menanti detak pembangunan. Desa-desa di Maluku Tengah memikul harapan yang serupa. Harapan bahwa anggaran yang turun dari pusat itu bukan sekadar dana, melainkan janji dan bukti bahwa pembangunan harus dimulai dari akar.
Namun dalam banyak desa, dana itu tak selalu mengakar. Ia terhenti di permukaan, membangun plang-plang proyek tanpa isi, membiayai kegiatan-kegiatan seremonial yang tak mengubah nasib. Jalan rabat beton dibangun tanpa drainase. BUMDes dibentuk, tapi mati sebelum bernafas. Lumbung pangan digagas, tapi tak menyentuh para petani yang setiap hari berdamai dengan musim dan cemas.
Penyimpangan itu tidak selalu kentara. Ia bersembunyi dalam kuitansi yang sah di mata, tapi palsu di nurani. Ia duduk dalam rapat-rapat yang hanya dihadiri suara para saniri yang setuju, bukan yang peduli. Maka jangan heran jika banyak warga terus menggantungkan harapan pada janji yang sama, tahun demi tahun, akan tetap seperti itu. Tak pernah benar-benar menyentuh hidup mereka. Entah itu di Nusa Laut atau di punggung gunung binaiya. Desa-desa seperti Mariana dan Manusela.








