Lihatlah seorang nelayan di tepian pulau Seram tak lagi melaut. Lihatlah seorang bapak yg hanya duduk diantara tajamnya batu karang pulau Haruku. Menanti longboat bermesin 15pk yang tak kunjung datang. Janji pengadaan tinggal janji. Ia duduk di atas batu karang, memancing ikan tato/pogo yang kecil dan tak bernilai pasar. Bukan karena ingin, tapi karena tak ada pilihan. Dan di balik kail yang diam, ada hati yang menanti. Adakah dana desa benar-benar bisa menjangkau lautnya yang luas? Atau hanyut dan hilang bersama derasnya arus diselat antara pulau Saparua dan pulau Haruku.
Di sinilah makna rakyat seharusnya tak dikecilkan. Mereka bukan penonton dari panggung kekuasaan, mereka adalah penjaga yang tahu betul kapan janji mulai melenceng dari arah. Tanpa pengawasan dari bawah, transparansi hanya menjadi jubah indah yang menutupi kebusukan. Setiap warga desa berhak tahu ke mana arah dana mengalir, dan mengapa hasilnya tak tumbuh di tanah yang mereka pijak setiap hari.
Dan harapan itu bukan omong kosong. Di Desa Ponggok, meski jauh dari tanah Maluku Tengah, dana desa menjadi obor yang benar-benar menyala. Mereka tak membangun istana, tapi menata potensi. Mata air disulap menjadi destinasi wisata. Dana dikelola bersama, BUMDes menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Penghasilan desa meningkat, dan yang tumbuh bukan hanya kas, tapi martabat dan kesejahteraan.









