Namun, tantangan bagi pasangan ini terletak pada bagaimana mereka bisa menjaga identitas lokal yang pluralis di tengah arus besar migrasi penduduk dan keberagaman yang dinamis.
Muhammad Kasuba, memang mewakili figur yang sangat dekat dengan budaya dan identitas Togale sebagai salah satu suku terbesar. Namun, Maluku Utara bukan hanya wilayah bagi warga Togale; ia telah menjadi melting pot dari berbagai suku dan budaya.
Oleh karena itu, tantangan utama bagi pasangan dengan akronim MK-BISA ini adalah bagaimana mereka dapat memperluas daya tarik politik mereka kepada warga non-Togale, yang jumlahnya cukup signifikan di Maluku Utara.
Pasangan ini juga harus waspada agar tidak dianggap hanya mewakili satu kelompok etnis atau suku tertentu.
Mereka perlu menyeimbangkan penggunaan simbol dan identitas tanpa mengalienasi kelompok lain dengan identitas di luar Togale.
Untuk menghadapi tantangan ini, Muhammad Kasuba dan Basri Salama bisa menggunakan pendekatan yang menekankan inklusivitas, menekankan Maluku Utara sebagai rumah bagi semua warga.
Basri sebagai anak muda dengan latar belakang HMI, bisa memanfaatkan nostalgia dan hubungan emosional dengan warga hijau-hitam untuk menjaga inklusivitas dan nilai intelektual.








