Oleh: Dino Umahuk, Sastrawan Indonesia
PILKADA Maluku Utara 2024 bukan hanya arena adu gagasan antara pasangan calon, tetapi juga arena pertarungan simbolik yang sarat dengan warna identitas.
Pertarungan kali ini mempertemukan Muhammad Kasuba-Basri Salama dengan Husain Alting Sjah-Asrul Rasjid Ichan, yang membawa identitas kultural dan etnis mereka.
Kedua pasangan calon ini memiliki konotasi kuat dalam rivalitas budaya dan adat, terutama terkait dengan warna identitas Tobelo-Galele (Togale) dan Tidore.
Di tengah rivalitas ini, ada juga pasangan Benny Laos-Sarbin Sehe dan Aliong Mus-Syahril Taher, yang menawarkan alternatif dari dominasi warna-warni tradisional tersebut.
Tantangan Husain Alting Sjah
Husain Alting Sjah, yang secara tradisional merupakan Sultan Tidore, menghadapi tantangan besar ketika ia harus beradaptasi dengan arena politik Maluku Utara.
Sebagai seorang pemimpin dengan basis massa tradisional di wilayah Tidore Kepulauan, di mana keberadaannya menjadi symbol sekaligus identitas orang Tidore, kini harus berhadapan dengan elemen luar yang lebih luas dan beragam di Maluku Utara.
Salah satu tantangan utama bagi Husain Alting adalah merangkul masyarakat yang tidak memiliki ikatan emosional dan kultural dengan Tidore, bahkan secara tradisional menjadi lawan dalam tanda petik hingga kini.










