Membayangkan Dunia Tanpa Jurnalisme?

oleh -635 views

Nanang Krisdinanto dalam bukunya, Runtuh Dari Dalam: Serangan Komersialisasi terhadap Pagar Api Jurnalistik di Indonesia (2024) menunjukan bagaimana pola tekanan dari atas (top-down) tak selamanya diterima sebagai keputusan akhir yang tepat.

Nanang ingin membuka mata kita bahwa tarik-menarik dinamika media dalam suatu medan pertarungan yang disebutnya “arena jurnalistik” tak melulu mesti dilihat dengan pendekatan ekonomi-politik semata. Karena ia tak menjawab persoalan dasar dalam bidang jurnalistik yang terlampau luas. Dengan mengelaborasi teori Pierre Bourdieu; habitus, modal, ranah, dan praktik, serta cara berpikir relasional, eks jurnalis Surabaya Post itu menyimpulkan jika jurnalis sebagai subjek aktif pun punya andil dalam persoalan-persoalan kekacauan arena jurnalistik.

Baca Juga  Groundbreaking Proyek Abadi Masela Dijadwalkan Akhir Juni 2026

Jelas Nanang, di dalam arena jurnalistik yang semi-otonom (karena terkoneksi dengan arena politik dan ekonomi), para aktor-aktor media saling sikut (pemilik vs pemilik, pemilik vs pekerja, dan/atau pekerja vs pekerja) dalam pusaran dinamika untung-rugi yang dikonstruksi sendiri. Hasilnya, berbagai kepentingan kelompok itulah yang menjadikan kerja-kerja profesional media turut terdistorsi, menjadi lalai (tak patuh pada pagar api jurnalistik), acuh tak acuh, menerabas kode etik, beringas memberitakan. Coba perhatikan artikel Syamsul Huda M. Suhari, eks jurnalis Antara Biro Gorontalo ini, “Saya Jurnalis, Bukan Pencari Iklan”.

No More Posts Available.

No more pages to load.