Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
SEORANG gadis, mahasiswi sebuah perguruan tinggi terkemuka di Jawa Timur, memutuskan mengakhiri hidupnya. Dia membuat keputusan itu dalam kesedihan yang luar biasa. Namun dengan cara yang juga elegan luar biasa.
Dia memutuskan untuk meminum racun sianida dengan minuman kesukaannya, Red Velvet. Itu dilakukan di samping makam orang yang ia cintai yang sudah pergi duluan, ayahnya.
Kesedihan luar biasa, yang menjadi ciri depresi, dan sikap elegan-nya itu menyita perhatian Indonesia. Sekaligus memaksa kita untuk menengok dan mendalami mengapa hal ini terjadi?
Mengapa anak muda, yang bersekolah di sekolah yang sangat baik, yang berparas sama sekali tidak jelek, yang seakan tidak akan mengalami kesulitan apapun untuk menapak masa depan, memilih mengakhiri hidupnya?
Akhir hidup gadis ini diwarnai oleh dua hal: kekerasan seksual dan absennya perlindungan terhadap dirinya baik secara sosial dan psikologis.
Ya, dia mengalami kekerasan seksual. Dia diperkosa oleh pacarnya di mobil. Pemerkosaan itu mengakibatkan kehamilan.
Ketika orang-orang disekitarnya mengetahui, mulailah dia mendapat penghakiman. Keluarga pacarnya tidak menerimanya. Ibu pacarnya terang-terangan menuntut dia untuk menggugurkan kandungannya.










