Oleh: Weslly Johannes, Penulis
Saya memasuki “Betapa Laut adalah Kamu”, antologi puisi kedelapan karya Dino Umahuk, dengan dua pertanyaan saja, sebab saya menduga akan ada banyak jawaban menunggu. Pertanyaan pertama, “Laut macam apa akan saya temukan di dalam antologi terbaru ini?” Kedua, “Apa dasar dari konsistensi penulis menyelami seluk-beluk laut sebagai tema sentral karya-karyanya?” Dan pertanyaan ikutannya ialah: “Adakah laut di dalam antologi ini juga berevolusi sama seperti laut dalam sejarah panjang eksplorasi sastra?”
Baru pada lembar-lembar awal buku ini, pembaca sudah menjumpai bermacam-macam laut. Laut yang purba, balau, dan misterius sampai laut teduh di mana mengalun gelombang-gelombang rindu. Pembaca juga bertemu laut yang suci dan abadi bagai dewa-dewi Yunani hingga laut yang cemar dan bisa binasa seperti dapat kita pandang dari atas Jembatan Merah-Putih di Teluk Ambon. Baiklah kita layari satu demi satu.
Laut Pertama: Laut sebagai metafora dunia emosi dan relasi manusia yang dinamis. Usaha mengungkap emosi dan mengurai kompleksitas relasi manusia barangkali tidak akan pernah menemukan akhir. Untuk dua perkara ini saja manusia sudah menulis jutaan lagu, puisi, dan masih terus menuliskannya. Dino Umahuk ada dalam barisan ini. Di dalam puisi-puisinya, laut adalah cinta, luka, dan rindu. Laut juga gelombang-gelombang yang bikin bimbang, ngilu badai, dan arus deras yang bawa hanyut itu gelisah. Relasi dua anak manusia yang ribet minta ampun digambarkan sebagai dua arus yang menyatu, berputar seperti orang menari, lalu menghisap apa saja ke dalam pusarannya. “Aros taputar”, demikian kami di Maluku sering menyebut pertemuan arus semacam itu.








