Ada juga yang menarik dan bisa saja menjadi ‘stretching point’ dari risalah teladan pengorbanan Nabi Ibrahim yang historis, filosofis, dan teologis, yakni tentang penghambaan sejati penuh totalitas Nabi Ibrahim yang mutlak pada Sang Pencipta Penghidupan dan Kehidupan. Ini menjadi linear dengan perintah Allah seperti tersurat pada,
QS. Al-Hajj Ayat 47
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوَٰى مِنْكُمْۗ
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.”
Sinyalemen Al Quran sebagaimana diperintahkan Allah, sejatinya juga memberi isyarat agar ibadah manusia itu tidak sekadar melaksanakan syariat, lebih dari itu harus bisa memaknai, menyentuh, dan memanifestasikan makna tarekat, hakikat dan marifat yang tersembunyi. Momentum dalam Idul Adha tak terbatas ibadah ritual semata, lebih dari itu harusnya bisa menjadi gerakan sosial. Gerak pembebasan rakyat dan umat dari belenggu jahiliyah.
Apa yang menjadi pesan inti dari peristiwa yang menjadi tuntunan religi, acapkali kehilangan esensi dan substansinya. Penyembelihan hewan kurban terbatas hanya pada pembagian daging hewan pada masyarakat yang tak beruntung secara ekonomi dan dianggap kemurangan. Ada pesan sosial di dalamnya, tapi lebih dari itu menuntut komitmen dan konsistensi akidah yang kuat dalam mengabdi dan penyerahan diri pada Allah semata.









