Memilih Diksi “Yaman”: Kekuasaan yang Tak Tahan Cermin, Legitimasi yang Tergerus

oleh -385 views
Ansori

Oleh: M. Isa Ansori, Kolumnis dan Akademisi

Ada ironi yang tak lagi bisa disembunyikan. Prabowo Subianto, yang dahulu lantang meramalkan keruntuhan bangsanya sendiri, kini justru tampak gelisah ketika rakyat menggemakan kegelisahan yang sama. Narasi “Indonesia bubar” pernah ia bangun sebagai alarm keras—sebuah kritik struktural yang tajam sekaligus ambisi politik yang terukur. Namun hari ini, ketika kritik publik bermunculan—dari “Indonesia gelap” hingga kecemasan sosial-ekonomi—ia justru berdiri di sisi seberang: resisten, defensif, dan mulai kehilangan ketenangan menghadapi cermin yang dulu ia ciptakan sendiri.

Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar kritik. Ini soal konsistensi nalar—dan keberanian untuk bercermin. Sebab kritik publik hari ini sejatinya hanyalah gema dari analisis lama yang pernah ia bangun sendiri. Jika dulu narasi itu dianggap sebagai bentuk kecintaan pada bangsa, mengapa kini ia berubah menjadi ancaman?

Baca Juga  Gaji ke-13 ASN Cair Juni 2026, Ini Besaran dan Komponennya

Pilihan diksi “Yaman” dalam konteks politik tidak pernah netral. Ia bukan sekadar kata; ia simbol. Ia bukan hanya penanda; ia alat. Dan seperti semua alat dalam politik, ia bisa menjadi jembatan—atau justru jurang.

Kita semua tahu, saat Pilpres 2024, Anies Baswedan yang saat itu menjadi kandidat capres, dibangun narasi keturunan Yaman yang diasumsikan sebagai pendatang dan dianggap tidak layak memimpin Indonesia karena persoalan keturunan. Pilihan diksi Yaman oleh Prabowo presiden, justru membangun persepsi publik yang dikonotasikan kepada Anies Baswedan. Bagi Anies ini menjadi penanda bahwa posisi tawarnya akan semakin meningkat dan empati publik kepadanya akan semakin kuat.

No More Posts Available.

No more pages to load.