Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
Pagi ini seorang teman meneruskan sebuah artikel. Ia ditulis oleh mantan diplomat di Singapore. Saya tahu dia seorang penulis yang cukup terkenal.
Judulnya, yang juga saya jadikan judul disini, menantang. Ia mulai dengan kontras antara negara-negara maju dengan Indonesia. “Ketika negara-negara demokrasi yang kaya raya memilih para penipu sebagai pemimpin mereka, keberhasilan Presiden Joko Widodo pantas mendapatkan pengakuan dan penghargaan yang lebih luas,” demikian kokoknya.
Dia akhir artikel pengarang ini menunjukkan siapa yang dia maksud dengan penipu (con man) itu. Ia adalah Donald Trump, mantan presiden AS dan Boris Johnson, yang sekarang menjadi PM Inggris.
Kemudian, artikel ini mengungkap semua keberhasilan Presiden Jokowi. Dia memperlihatkan kesulitan untuk memerintah Indonesia — dengan ribuan pulau dan keberagaman etnik yang ekstrim. Si pengarang takjub bagaimana Jokowi bisa memerintah negara dengan keberagaman yang sangat tinggi ini.
Menurut pengarang ini, Jokowi sudah melakukan lebih dari sekedar memerintah secara kompeten. “Jokowi telah menetapkan standar baru dalam memerintah, yang seharusnya membikin iri negara-negara demokratis yang lebih besar.”









