The Genius of Jokowi

oleh -36 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Pagi ini seorang teman meneruskan sebuah artikel. Ia ditulis oleh mantan diplomat di Singapore. Saya tahu dia seorang penulis yang cukup terkenal.

Judulnya, yang juga saya jadikan judul disini, menantang. Ia mulai dengan kontras antara negara-negara maju dengan Indonesia. “Ketika negara-negara demokrasi yang kaya raya memilih para penipu sebagai pemimpin mereka, keberhasilan Presiden Joko Widodo pantas mendapatkan pengakuan dan penghargaan yang lebih luas,” demikian kokoknya.

Dia akhir artikel pengarang ini menunjukkan siapa yang dia maksud dengan penipu (con man) itu. Ia adalah Donald Trump, mantan presiden AS dan Boris Johnson, yang sekarang menjadi PM Inggris.

Kemudian, artikel ini mengungkap semua keberhasilan Presiden Jokowi. Dia memperlihatkan kesulitan untuk memerintah Indonesia — dengan ribuan pulau dan keberagaman etnik yang ekstrim. Si pengarang takjub bagaimana Jokowi bisa memerintah negara dengan keberagaman yang sangat tinggi ini.

Baca Juga  Irfan Abdurrahim Resmi Jabat Ketua Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia Halmahera Selatan

Menurut pengarang ini, Jokowi sudah melakukan lebih dari sekedar memerintah secara kompeten. “Jokowi telah menetapkan standar baru dalam memerintah, yang seharusnya membikin iri negara-negara demokratis yang lebih besar.”

Artikel ini menunjuk pada kegagalan Amerika dibawah Presiden Biden untuk menjembatani perpecahan politik di negeri itu. 78% Republikan di Amerika tidak mengakui bahwa Biden itu terpilih secara sah.

Sangat berbeda dengan Jokowi, tulis pengarang ini. Mantan lawan capres dan cawapresnya sekarang duduk di pemerintahan sebagai menteri-menterinya. Ini saja, sudah cukup menunjukkan bagaimana Jokowi menjadi “pemersatu” ditengah pembelahan tajam secara politik.

Tentu tidak dikatakan siapa yang membuat perpecahan itu. Dan juga dampak pahitnya yang terasa di lapisan akar rumput hingga kini sementara para elit bermesraan dan berangkulan kembali.

Baca Juga  Ada Apa Dengan Republik Ini?

Selebihnya, artikel ini memberikan litani keberhasilan Presiden Jokowi. Dari kehebatannya mengentaskan kemiskinan hingga ke pembangunan infrastruktur jalan. Ia juga menguatkan kredensial presiden ini sebagai seorang kapitalis. Seorang yang lahir dari kemiskinan (iya, kemiskinan) dan sukses menapak hidup sebagai pengusaha dan politisi.

Pendeknya, artikel ini menyuruh negara-negara besar dan maju untuk belajar dari Indonesia — yang berhasil dalam segala bidang dan dilakukan oleh seorang presiden yang menawarkan sebuah pendekatan untuk memerintah (governing) yang kompeten dan efektif.

Membaca artikel ini, terlihat pagi yang cerah di Indonesia. Burung-burung berkicau, kopi hangat menyegarkan tenggorokan dan menghalau dahak. Si bapak mambaca koran sarungan, si istri yang belanja dasteran dan pulang membawa oleh-oleh jajan pasar. Sisa kehangatan bercinta semalam yang dahsyat masih terasa.

Indonesia yang indah. Lega. Puas. Damai. Aman. Titi tentram kerta raharja.

Baca Juga  Apkir

Saya kira, artikel ini bahan bagus untuk para buzzeRp. Supaya mereka tidak melulu defensif. Tidak melulu bertugas membela ketika presiden diserang. Sesekali, perlu juga melakukan offensive dengan menonjolkan sisi-sisi positif presiden. Persis dengan menunjukkan bahwa sang presiden adalah seorang … jenius!

Artikel seperti ini, dengan bobot internasional dari seorang penulis yang menjadi anggota “American Academy of Arts and Sciences” tentu bisa membikin glowing reputasi presiden yang akhir-akhir ini mulai mengalami defisit.

Hanya saja, saya kemudian ingat kata-kata Mbah Madi, orang tua tetangga saya dulu waktu kos di Pohruboh, Sleman. Lebih kurang dia bilang begini dalam bahasa Jawa, “Ati-ati ya Le, kalau ada yang memujimu setinggi bulan, kamu akan terlempar ke matahari. Panes.” (*)

Hermanus Konjol, seorang pemuda di Sorong, Papua Barat, memanggil Jokowi ketika dia meninjau vaksinasi Covid-19 di Gedung Serbaguna Yonif Raider Khusus 762/VYS, Sorong (4/10/2021). Foto ini menarik karena si pemuda memakai kaus bertuliskan “Lebih Manis dari Janji Kamu.” Dengan manis, Presiden Jokowi memberikan jaketnya untuk dipakai Hermanus. Janji manis itu pun menjadi putih.

No More Posts Available.

No more pages to load.