Mengapa AS dan Israel Membingkai Konflik dengan Iran sebagai Perang Agama

oleh -0 Dilihat
Organisasi hak-hak sipil Muslim di Amerika Serikat, Council on American-Islamic Relations (CAIR), mengecam penggunaan retorika tersebut oleh pejabat militer dan politik Amerika.

Menurut laporan tersebut, seorang komandan bahkan disebut menyatakan bahwa mantan Presiden AS, Donald Trump, “diurapi oleh Yesus” untuk memulai konflik yang akan memicu peristiwa akhir zaman.

MRFF sendiri merupakan organisasi nirlaba yang bertujuan menjaga kebebasan beragama bagi anggota militer Amerika Serikat.

Pernyataan Pejabat AS dan Israel

Sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat juga menggunakan bahasa yang menyinggung unsur agama dalam konflik ini.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut pemerintahan Iran dijalankan oleh “orang-orang fanatik agama yang gila” yang memiliki ambisi mengembangkan senjata nuklir.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam konferensi pers di Pentagon menyatakan bahwa “rezim gila seperti Iran yang terobsesi dengan delusi kenabian Islam tidak dapat memiliki senjata nuklir.”

Baca Juga  Blok Masela Masuk Tahap Konstruksi, Tanimbar Siapkan SDM dan UMKM Lokal

CAIR menilai pernyataan tersebut merujuk pada keyakinan eskatologi dalam tradisi Syiah mengenai tokoh-tokoh yang muncul menjelang akhir zaman.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga menggunakan rujukan religius ketika membandingkan Iran dengan bangsa Amalek dalam tradisi Taurat—musuh kuno yang dalam kisah Alkitab dianggap sebagai simbol kejahatan.

“Kita membaca dalam bagian Taurat minggu ini: ‘Ingatlah apa yang dilakukan Amalek kepadamu’. Kita ingat—dan kita bertindak,” ujar Netanyahu dalam sebuah pernyataan.

No More Posts Available.

No more pages to load.