Menghitung Kekuatan di Luar Istana

oleh -2 views
Toni Rosyid

Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Trust ke penerintahan Prabowo turun tajam. Elektabilitas Prabowo semakin mengecil. Di angka 14,5 persen (hasil survei MSRC). Kondisi ini menjadi dorongan kuat bagi kekuatan di luar istana untuk mengintensifkan konsolidasi.

Setidaknya ada empat arus utama kekuatan di luar istana. Siapa saja, apa targetnya, bagaimana peluangnya dan srrategi apa yang dilakukan untuk mencapai target itu

Pertama, kekuatan Solo, yaitu Jokowi. Jokowi tentu ingin Gibran, putra Sulungnya jadi presiden. Apakah Jokowi akan menunggu pilpres 2029 untuk menjadikan Gibran jadi presiden?

Elektabilitas Gibran masih jauh dari mampu untuk menjadi modal berkompetisi di 2029. Jalur normal, hampir tidak mungkin.

Baca Juga  Unpatti Ambil Peran Strategis Awasi Revitalisasi Sekolah di Maluku

Kalau Gibran harus menjadi cawapres lagi, peluangnya tak semulus 2024 kemarin. Di pilpres 2024, siapapun yang ditempeli Gibran akan menang. Jokowi penguasa dan menjadi kartu kemenangan. Ketika Gibran dipasangkan dengan Prabowo, maka Prabowo menang. Tanpa Gibran, sulit membuat kalkulasi kemenangan bagi Prabowo. Semua orang mafhum soal ini.

Jika Gibran sabar dan menunggu hingga tahun 2034 untuk maju sebagai capres, belum tentu Jokowi sebagai back up politik utama Gibran akan sekuat sekarang. Sebagai mantan penguasa, pengaruh dan kekuatan politik seiring waktu akan berangsur melemah. Delapan tahun kedepan, orang-orang Jokowi yang bertebaran di berbagai institusi negara akan banyak yang sudah pensiun. Begitu juga basis dukungan massanya, akan merosot. Maka, jalan yang paling mungkin ditempuh untuk menjadikan Gibran presiden tentu tidak dari jalan normal. Lalu dengan jalan apa? “Kok tanya saya”. Jokowi seorang politisi yang sangat piawai untuk memainkan jalur-jalur alternatif dalam politik. Jokowi adalah “politisi unpredictable”.

No More Posts Available.

No more pages to load.