Mengapa AS dan Israel Membingkai Konflik dengan Iran sebagai Perang Agama

oleh -0 Dilihat
Organisasi hak-hak sipil Muslim di Amerika Serikat, Council on American-Islamic Relations (CAIR), mengecam penggunaan retorika tersebut oleh pejabat militer dan politik Amerika.

Porostimur.com, Washington – Ketika konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari kelima pada Rabu (5/3/2026), sejumlah pernyataan dari pejabat Washington dan Tel Aviv memicu kontroversi karena dinilai membingkai perang tersebut sebagai konflik bernuansa agama.

Organisasi hak-hak sipil Muslim di Amerika Serikat, Council on American-Islamic Relations (CAIR), mengecam penggunaan retorika tersebut oleh pejabat militer dan politik Amerika. CAIR menilai narasi yang berkembang berbahaya dan berpotensi memicu sentimen anti-Muslim.

Serangan militer terhadap Iran dimulai pada Sabtu pekan lalu oleh Amerika Serikat dan Israel. Sejak itu, serangan terus berlanjut terhadap berbagai target di Iran. Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Irak, dan Siprus.

Baca Juga  Polda Malut Nyatakan Tak Temukan Unsur Pidana dalam Dugaan Penjualan 90 Ribu Ton Ore Nikel PT WKM

Tuduhan Narasi “Armageddon”

Kontroversi mencuat setelah lembaga pengawas militer Amerika Serikat, Military Religious Freedom Foundation (MRFF), mengaku menerima sejumlah keluhan dari personel militer.

Dalam laporan yang diterima MRFF, seorang bintara menyebutkan bahwa pasukan diberitahu oleh komandan mereka bahwa perang melawan Iran merupakan bagian dari rencana ilahi yang akan memicu “Armageddon” atau akhir zaman menurut Alkitab.

No More Posts Available.

No more pages to load.