CAIR mengkritik keras penggunaan narasi tersebut, dengan menyebutnya sebagai upaya membenarkan kekerasan terhadap warga sipil.
Mengapa Narasi Agama Digunakan?
Sejumlah akademisi menilai penggunaan retorika agama dalam konflik geopolitik bukanlah hal baru.
Profesor di Universitas Durham Inggris, Jolyon Mitchell, mengatakan bahwa membingkai konflik sebagai perang agama dapat memobilisasi dukungan politik dan memperkuat legitimasi tindakan militer.
“Dengan membingkai konflik sebagai perang suci, para pemimpin menggunakan keyakinan teologis untuk membenarkan tindakan dan menggalang dukungan publik,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan profesor dari Universitas Northwestern di Qatar, Ibrahim Abusharif. Ia menyebut retorika agama sering digunakan untuk menciptakan narasi moral yang sederhana bagi publik.
Menurutnya, konflik geopolitik yang kompleks seringkali sulit dijelaskan dengan bahasa strategi militer. Karena itu, pemimpin politik kerap menggunakan narasi “kebaikan melawan kejahatan” atau “peradaban melawan fanatisme” agar lebih mudah dipahami masyarakat.
Risiko terhadap Perdamaian
Para pengamat mengingatkan bahwa penggunaan narasi religius dalam konflik internasional membawa konsekuensi serius.
Jika konflik digambarkan sebagai pertarungan suci antara keyakinan atau peradaban, ruang kompromi politik akan semakin sempit dan proses diplomasi menjadi lebih sulit.









