Kemenangannya atas Andrew Cuomo, tokoh kuat yang didukung pelobi AIPAC, memperlihatkan bahwa banyak warga New York mencari perubahan.
Namun, keberhasilannya ini justru memancing kemarahan kalangan konservatif yang masih memandang identitas Muslim sebagai ancaman.
Pola Lama yang Terulang Kembali
Serangan terhadap Zohran Mamdani mengingatkan kita pada pola yang sama yang dialami Ilhan Omar dan Rashida Tlaib. Politikus muslim dan Asia Selatan di AS kerap menjadi sasaran ujaran kebencian, ancaman, dan kampanye disinformasi.
Anggota Kongres seperti Andy Ogles bahkan menyerukan pencabutan kewarganegaraan Mamdani hanya karena ia lahir di Uganda dan menjadi warga negara AS pada 2018.
Pernyataan bernada kebencian juga datang dari Presiden Donald Trump, yang menyebut Mamdani sebagai “calon wali kota komunis” dan menuding para pendukungnya sebagai ancaman terhadap Amerika.
Anggota Kongres Partai Republik lainnya ikut menyebarkan sentimen Islamofobia, termasuk dengan meme Patung Liberty dalam burka dan narasi yang mengaitkan kemenangan Mamdani dengan serangan September 2001.
Mengapa Islamofobia Mudah Menyebar?
Lanskap politik dan media sosial yang terpecah membuat ujaran kebencian mudah menyebar. Media partisan dan algoritma media sosial memperkuat pesan kebencian tanpa filter.









