Mengenal Tradisi Makan Ayam Bersama Negeri Hila-Kaitetu (Sarane) dan Kaitetu (Salam)

oleh -30 views

Porostimur.com, Ambon – Negeri Hila-Kaitetu (Sarane) dan Kaitetu (Salam) merupakan salah satu dari sekian banyak daerah di Ambon Maluku yang memiliki keunikan dalam mengkonstruksi tipologi sosialnya. Keunikan tersebut tercermin melalui pola tindakan integratif yang menegasikan tendensi keagamaan dalam setiap proses sosial.

Betapa tidak, kesatuan ideologi dalam kerangka Hidup Orang Basudara (Hidup Bersaudara) menjadi aktor utama dalam tercapai sifat integratif yang tentunya menjadikan nilai-nilai adat sebagai basisnya.

Indahnya kehidupan bersama yang sudah berlangsung secara turun-temurun menjadi sayu kenyataan hidup orang Hila-Kaitetu Sarane dan Kaitetu Salam yang terinternalisasi ke dalam batin setiap individu dan berwujud pada tindakan yang integratif.

Sekalipun memang terpisah secara teritorial, hingga kini, orang Hila-Kaitetu Sarane dan Kaitetu Salam masih tetap menjalin hubungan persaudaraan. Adanya media perjumpaan sosial (sosial, ekonomi, pendidikan) dapat dipandangan sebagi social glue yang semakin merekatkan hubungan persaudaraan.

Salah satu tradisi yang masih teguh dipegang dan dijalankan hingga kini, yakni tradisi 31 Januari yang mempertemukan warga Hila-Kaitetu Sarane dan Kaitetu Salam.

31 Januari adalah tradisi merekatkan hubungan persaudaraan melalui acara makan ayam bersama tokoh adat dan warga kedua komunitas, sebagaimana yang terjadi pada 31 Januari 2024 kemarin di Batu Putih, Tawiri, Kota Ambon.

Sambut hangat penuh suka cita dua komunitas berbeda agama saat pertemuan dalam balutan budaya bertajuk 31 Januari antara Hila-Kaitetu Sarena dan Kaitetu Salam. “Ini adalah salah satu warisan budaya Maluku yang masih terawat dan terpelihara dengan baik dari generasi ke generasi.

Raja Negeri Kaitetu dan warganya di sambut meriah oleh warga Hila-Kaitetu Sarane jalan bersama dalam iringan tabuhan rebana dengan nyanyian-nyanyian menuju pusat acara makan ayam bersama sebagai simbol puncak pagelaran tradisi 31 Januari

Baca Juga  5 Caleg Suara Terbanyak se-Indonesia: Brigitta Lasut Salip Puan Maharani

Dua komunitas berbeda agama ini sepakat untuk tetap melestarikan budaya peninggalan masa lampau yang dititipkan pendahulu mereka. Konon 31 Januari ini mengisahkan tentang solusi penyelesaian persoalan pada zaman dahulu, di mana tokoh-tokoh adat memilih menyudahi sengketa apapun melalui makan ayam bersama.

Dalam konteks kekinian, tradisi 31 Januari menjadi pilar utama menciptakan harmonisasi keberagaman, apalagi di Maluku yang memiliki sejarah kelam tentang kemanusiaan. (Keket)

Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News