Veldkamp mengatakan ia ingin mengambil langkah-langkah tambahan terhadap Israel atas perangnya di Gaza, tetapi menghadapi tentangan keras dalam rapat kabinet.
“Saya merasa terkekang dalam menetapkan arah yang saya anggap perlu sebagai menteri luar negeri,” ujarnya kepada kantor berita Belanda, ANP.
Ia menambahkan langkah-langkah selanjutnya yang ia usulkan “dibahas secara serius” tetapi akhirnya diblokir.
Bulan lalu, Belanda menyatakan menteri-menteri sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, sebagai persona non grata, dengan alasan hasutan keduanya untuk melakukan kekerasan pemukim dan mendorong pembersihan etnis Palestina di Gaza.
Pada hari Kamis, Belanda termasuk di antara 21 negara yang mengecam persetujuan Israel atas proyek permukiman baru di Tepi Barat sebagai “tidak dapat diterima dan bertentangan dengan hukum internasional.”
Meskipun langkah-langkah ini, kabinet Belanda menemui jalan buntu mengenai kemungkinan langkah-langkah baru seperti sanksi atau larangan visa. Pengunduran diri Veldkamp menyusul kebuntuan tersebut.
Pemerintah telah menghadapi tekanan domestik yang semakin meningkat sejak dimulainya genosida Israel di Gaza, yang dilancarkan pada Oktober 2023.
Protes massal di Den Haag telah menarik antara 100.000 dan 150.000 orang, demonstrasi terbesar di Belanda dalam dua dekade, dengan para pengunjuk rasa menuntut sanksi terhadap Israel dan akses kemanusiaan tanpa batas ke Gaza.









