Struktur fiskal kita masih sangat bergantung pada utang. Negara kerap menutup kewajiban lama dengan pinjaman baru—sebuah pola yang selama ini masih dapat berjalan karena pasar keuangan global relatif longgar.
Masalahnya, situasi dunia kini berubah. Banyak negara sedang memperketat neraca keuangan mereka sendiri.
Biaya pinjaman meningkat, dan ruang fiskal global semakin sempit. Dalam situasi seperti ini, kebijakan ekonomi yang tidak disiplin dapat dengan cepat berubah menjadi beban struktural.
Di sinilah publik mulai menyoroti berbagai program pemerintah yang dianggap menguras anggaran dalam skala besar. Salah satunya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Secara ide, program ini tentu mulia: memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup.
Namun pelaksanaannya di sejumlah tempat menimbulkan tanda tanya.
Ada laporan tentang kualitas makanan yang dipersoalkan, bahkan penolakan di beberapa daerah karena menu yang dianggap tidak layak.
Lebih dari itu, skala anggaran yang dibutuhkan program ini sangat besar.
Dalam kondisi fiskal yang sedang ketat, setiap rupiah yang dikeluarkan negara semestinya diuji dengan pertanyaan sederhana: apakah program itu benar-benar efektif?
Apakah ia tepat sasaran?
Ataukah ia sekadar proyek besar yang lebih menonjol secara politik daripada manfaatnya secara nyata?








