Dalam konteks ini, apakah Sherly paham perannya sebagai teladan perubahan atau terlalu percaya diri pada kinerja yang rapuh. Mulai dari fakta swakelola milyaran rupiah, Pergub Efisiensi Pergeseran APBD 2025, status speedboat, konflik tambang dan mobil Lexus adalah praktek nirlogika dalam pemerintahan. “Orang bilang, “karja sabarapang – tara dapa dia pe rumus”. Listen to the something that maybe you don’t like to.
Sekarang bertanyalah kita, apakah benar niat dan tekad Sherly ketika berbicara tentang perbaikan dalam tata kelola pemerintahan? Saya mempunyai persepsi seperti orang kebanyakan : Ragu. Kita ragu melihat sikap selebritas merayakan kekuasaan hedon, glamour dan berpura-pura. Apa yang diomongkan dan dibuat sangat jauh berbeda. Pernyataannya selalu saling bertolak belakang dan inkonsisten dengan apa yang dilakukan. Padahal sejatinya harus ada perbaikan yang berkelanjutan; ia harus membuat birokrasi berbeda dengan sebelum ia pimpin.
Dalam paradoks demokrasi ada petuah perubahan yang mengatakan di dunia pemerintahaan ada dua tipe pemimpin yang berbahaya, yakni yang tak mau berubah dan yang selalu berubah-ubah. Mereka terlalu naïf dalam beradaptasi, masih menggunakan cara-cara lama, apalagi untuk berubah. “Kalaupun ingin melakukan perubahan, ia tidak mau perilaku kekuasaan sakleknya diubah”.









