Oleh: Dr. Said Assagaf, M.M, Pengajar Pascasarjana UMMU Ternate
Untuk kesekian kalinya, rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang juga dikutip sejumlah media nasional menempatkan Maluku Utara sebagai provinsi paling bahagia di Indonesia pada tahun 2025, dengan skor indeks kebahagiaan 76,34. Angka ini disebut unggul dalam dimensi perasaan dan makna hidup, keterikatan sosial yang kuat, lingkungan yang asri, serta minimnya tingkat stres masyarakat.
Tentu saja, kita patut menyambut kabar tersebut dengan gembira jika status “provinsi paling bahagia” benar-benar mencerminkan kondisi riil masyarakat Maluku Utara. Namun, kebahagiaan yang dilaporkan melalui angka statistik perlu diuji kembali melalui realitas sosial di lapangan. Apakah kebahagiaan itu benar adanya, atau sekadar narasi yang dibangun di atas data yang belum sepenuhnya komprehensif?
Tulisan ini mencoba menguji indikator kebahagiaan tersebut dengan membandingkannya terhadap fakta-fakta sosial yang terjadi di masyarakat Maluku Utara saat ini.
Indikator Kebahagiaan dan Realitas Sosial
Indeks kebahagiaan Maluku Utara disusun berdasarkan tiga indikator utama. Pertama, kepuasan hidup (life satisfaction) sebesar 34,80 persen yang mencakup kualitas kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga, hubungan sosial, lingkungan, dan keamanan.









