Nastasia Suci Ramadhani Kapten TimNas Wanita U-18 asal Santiong

oleh -32 views
Link Banner

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pelaku Sepakbola

JIKA sosok Rahmat Rivai, Fandi Mochtar, Rizky Pora, Zulham Zamrun atau Ilham Udin Armaiyn bermain untuk Tim Nasional Indonesia, publik sepakbola di Maluku Utara tentu berbangga. Tak Cuma pemain, nama daerah biasanya akan ikut dikenal. Tetapi kebanggaan itu dalam tafsir yang lebih sederhana sejatinya jadi lumrah karena daerah ini sejak dulu memiliki banyak sekali talenta sepakbola. Tapi bagaimana jika ada pesepakbola perempuan yang bermain untuk Tim Nasional?. Bisa jadi agak aneh. Bahkan tak ada antusiasme berlebihan. Maklum sepakbola di sini belum sepenuhnya bebas dari pengaruh gender. Sepakbola identik dengan olahraga untuk lelaki.

Karena itu, saya meyakini sangat sedikit yang mengenal nama seorang perempuan muda yang kini tengah merintis karir cemerlang sebagai punggawa Garuda Pertiwi. Namanya Nastasia Suci Ramadhani. Orang dekat memanggilnya Uci. Menilik namanya, kita bahkan bisa jadi terjebak pada kesumiran identitas. Selama ini “nama” kadung beriringan dengan penanda marga untuk menunjukan silsilah keluarga. Nastasia Suci Ramadhani bukan nama yang familiar. Meski berbeda tetapi Uci adalah perempuan muda asli Ternate. Puteri bungsu pasangan Rifan F. Tuingo dan Nona Lauki ini lahir di Ternate, 9 Oktober 2005. Ketertarikannya pada sepakbola bermula dari kebiasaannya menonton teman sebaya berlatih bola. Uci yang kala itu duduk di kelas empat SD Kenari Tinggi 3 saban sore mendatangi lapangan cordoba. Ia membawa tas berisi perlengkapan latihan. Juga satu dua buah bola.

Lapangan rumput berukuran setengah lapangan bola yang normal ini terletak di tengah-tengah pekuburan China. Persisnya di bagian barat kawasan Santiong. Sejak dulu lapangan ini jadi tempat bermain bola dan kini jadi markas Sekolah Sepakbola Cordoba. SSB ini berdiri tahun 2008. Bisa dikata jadi “penerus” dari SSB Milo, sekolah bola pertama di Ternate yang didirikan oleh mantan bomber klub Kramayudha Tiga Berlian, Arizona Hamadi. Arizona kala itu melatih pemain usia dini di lapangan Salero. Tak lama kemudian Milo pindah ke lapangan Cordoba. Seturut itu, nama Milo berganti jadi Cordoba. Samsudin Kodja, bomber Persiter dan Persma Manado di era 2000an ikut bergabung sebagai pelatih. Beberapa nama jebolan SSB Milo yang kita kenal antara lain Zulham Zamrun dan Zuhrizal A. Gamal.

Tak aneh jika Uci kecil terpesona. Apalagi kawasan Santiong sejak dulu banyak melahirkan pemain hebat yang melegenda semisal Saleh Teng yang akrab disapa Saleh Janjang. “Awalnya tidak memikirkan apapun, usia masih kanak-kanak. Perempuan pula. Ayah yang bertanya apakah mau berlatih?. Saya langsung tertarik”, aku Uci dalam sebuah percakapan dengan saya usai dirinya bermain memperkuat Indonesia melawan Kamboja. Rifan membenarkan cerita puterinya. Ia pula yang membawa uci kecil memberli sepatu bola pertamanya. Sang Ibu ikut mendukung. Maklum, tak ada anak lelaki di keluarga mereka. Padahal pasangan suami-isteri ini boleh dibilang pasangan gila bola. Setiap ada pertandingan bola di Ternate, keduanya tak pernah absen menonton.

Baca Juga  Belanda Jadi Favorit, Belgia Melaju

Meski tak ada anak perempuan yang berlatih, Uci tak patah semangat. Berbekal sepatu bola dari Sang Ayah, Ia selalu jadi orang pertama yang datang ke lapangan. Apalagi jarak rumahnya ke lapangan hanya puluhan meter melewati gang sempit yang berkelok. Samsudin Kodja, pelatihnya di SSB Cardoba mengakui Uci termasuk anak asuhnya yang unik. Bukan karena Ia perempuan tetapi karena keinginannya untuk berkembang sebagai pemain sepakbola sangatlah besar. Latihan rutin dari aspek mendasar seperti passing, control, dribbling hingga cara menendang yang benar diimbangi latihan fisik dijalani Uci dengan riang.

Di usianya yang belum genap 11 tahun, Uci terpilih sebagai bagian dari skuad SSB Cordoba yang mewakili Maluku Utara bermain dalam kualifikasi Piala Danone di Ambon tahun 2017. Ini pengalaman pertamanya ikut turnamen resmi. Setahun kemudian, Uci kembali ke Ambon bermain untuk ajang yang sama. Setelah itu, Ia juga jadi bagian dari skuad SSB Cordoba saat mengikuti turnamen sepakbola Piala Menpora U-14 tahun 2019. Skillnya makin terasah. Karena itu, Uci dikirim SSBnya untuk mengikuti seleksi Tim Nasional U-16 asuhan Rully Nere. Sebuah keputusan nekat. Maklum, di Maluku Utara tak ada klub sepakbola perempuan.

Uci gagal terpilih tapi ada dua keuntungan yang Ia bawa pulang ke Ternate.
Pertama, namanya masuk dalam pemain bola perempuan usia dini yang terdaftar di bank data federasi. Kedua. Ia dapat banyak pengalaman berharga sepanjang mengikuti seleksi. Ia tertantang. “Saya makin termotivasi untuk latihan dan mengasah kemampuan”. Sewaktu pandemi mengepung, Uci tetap konsisten berlatih. Satu dua kali, saya sempat menyaksikannya datang sendirian di lapangan Cordoba. Berlatih tanpa banyak bicara. Sekali waktu, saya bahkan sempat bermain bersama dirinya dengan pemain cordoba yang tengah bersiap untuk mengikuti sebuah turnamen lokal di Ternate. Ia lugas bermain. Tak ada kompromi saat berduel merebut bola. Kontrolnya terukur. Penempatan posisinya tak kaku. Kedua kakinya juga aktif menendang sama baiknya.

Baca Juga  Tentang Kampung Tua

Usai pandemi, Uci yang sudah duduk di kelas dua SMA mendapat undangan bergabung dengan klub Persis Solo. Orang tuanya sempat bimbang namun tekad Uci menyingkirkan semua keraguan. Perempuan muda ini hengkang ke Solo. Berlatih bola sambil bersekolah. Tak butuh waktu lama, namanya dipanggil untuk seleksi Tim Nasional yang dipersiapkan untuk AFF Women’s Championship tahun 2022 di Filipina. Ia dipilih Choach Rudy Eka Priyambada bersama beberapa pemain senior. Ketika berita ini sampai ke Ternate, keluarga Uci menyambut penuh syukur. Ada sembab bahagia di mata kedua orang tuanya, juga kedua kakak perempuannya yang selama ini konsisten mendukung sang adik.

Di Manila, Uci tiga kali bermain sebagai starter. Dalam percakapan whatsapp, Uci mengaku amat bangga saat mengenakan jersey Merah Putih. Moment pertama nan menggetarkan ini di dapat saat laga melawan Malaysia di Jose Rizal Memorial Stadium di Manila. “Saya menangis bangga saat menanyikan lagu Indonseia Raya”, tulisnya. Saat saya tanya, apa keinginannya setelah ada di posisi ini?. Ia spontan menjawab, hanya ingin membuat bangga kedua orang tuanya dan keluarga serta pelatih di SSB Cordoba. Ia mengakui banyak tantangan dan butuh kerja keras. Namun proses belajar itu akan dijalaninya tanpa keluhan.

Uci mengaku mengidolai Cristiano Ronaldo dan Alex Morgan. Ia bermimpi kelak bisa mengikuti jejak Alex. Perempuan bernama lengkap Alexandra Morgan Carrasco ini adalah penyerang utama Tim Nasional Amerika. Alex yang kini bermain untuk Orlando Pride telah dua kali membawa Amerika jadi juara dunia sepakbola wanita FIFA di tahun 2015 dan 2019. Jejaknya sungguh mentereng karena terpilih masuk Tim Nasional saat masih berusia 17 tahun. Tak heran, jika Uci ingin berkarir di Eropa sebagaimana seniornya, Shalika Aurelia Viandrisa yang kini bermain untuk AS Roma di Italia.

Baca Juga  Loela Drakel, "Aku ini Bukan Pintu"

Sepakbola menurut Uci saat ini sangat terbuka dan memiliki prospek yang cerah. Tak lagi dominan dikuasai kaum lelaki. Karena itu, Ia juga berkeinginan agar sejawatnya mau memilih untuk jadi pesepakbola. “Jangan ragu untuk berkarir sebagai pesepakbola wanita. Harus yakin pada kemampuan diri, fokus berlatih dan jangan mudah menyerah. Kita juga harus belajar menerima hasil dan terus berproses karena semua pasti ada jalannya”, katanya meyakinkan.

“Ada jalan” sebagaimana keyakinannya kini tengah terbuka lebar. Pulang dari Filipina, Choach Rudy tanpa ragu memilih Uci untuk jadi bagian dari Tim Nasional yang akan berjuang dalam AFF U-18 Women Championship di Palembang. Di kompetisi kelompok umur ini, Uci terlihat sangat percaya diri. Dua kali dirinya terpilih sebagai 11 pertama saat melawan Singapura dan Kamboja. Garuda Pertiwi dua kali menang. Kepemimpinannya di lini pertahanan terlihat dominan. Bahkan dalam laga melawan Kamboja yang dimenangkan secara dramatis oleh Garuda Pertiwi, Uci jadi kapten tim pengganti setelah sang kapten, Liza Madjar ditarik keluar di pertengahan babak kedua.

Ia kini tak hanya jadi pemain perempuan satu-satunya asal Maluku Utara yang bermain untuk Tim Nasional Indonesia, tapi bisa jadi Ia akan terus mengenakan ban kapten di lengan kanannya untuk memimpin Garuda Pertiwi di masa depan. Ada rasa bangga yang meledak saat menonton Uci bermain. Teruslah belajar dan berkembang karena sepakbola bukan semata tentang hasil akhir dalam hitungan matematika. Sepakbola adalah proses yang tak berhenti sebagaimana kata Alex Morgan ; “saat kamu bermain dan latihan, ini semua tentang seberapa banyak usaha dan energi yang kamu berikan dan sikap yang kamu miliki selama ini. Kerja keras dan usaha mengesampingkan bakat”. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.