Perspektif Keberlanjutan yang Rapuh
Gagasan pembangunan berkelanjutan—yang dipopulerkan oleh Komisi Brundtland—sesungguhnya masih berakar pada paradigma antroposentris. Manusia tetap menjadi pusat, sementara alam ditempatkan sebagai variabel pendukung. Pertanyaan-pertanyaan fundamental pun muncul: berapa banyak sumber daya yang boleh diambil? Untuk berapa lama? Dengan kualitas seperti apa? Dan, yang paling penting, untuk siapa?
Realitas menunjukkan, tidak ada masyarakat yang secara sadar ingin merusak lingkungannya. Namun, fakta bahwa krisis ekologis terus berlangsung justru menjadi bukti bahwa konsep keberlanjutan masih rapuh—bahkan mungkin ilusif. Ideologi pembangunan, dalam berbagai wajahnya, cenderung melahirkan kerusakan.
Pencerahan ilmu pengetahuan yang semula diharapkan membebaskan manusia, kini berbalik menjadi instrumen dominasi baru. Kapitalisme, industrialisasi, dan logika pertumbuhan tanpa batas telah mempercepat laju kehancuran ekologis. Bencana bukan lagi anomali, melainkan konsekuensi logis.
Seperti diingatkan Keraf, yang keliru bukan semata-mata antroposentrisme itu sendiri, melainkan cara manusia memaknainya secara sempit—seolah-olah superioritas memberi hak mutlak untuk menguasai dan mengeksploitasi alam tanpa batas.









