Nikel, Hutan, dan Kesombongan Manusia: Antroposentrisme di Balik Luka Maluku Utara

oleh -315 views

Antroposentrisme, dalam bentuknya yang lama, tampak kian usang. Dunia membutuhkan paradigma baru yang lebih etis, lebih adil, dan lebih menghormati alam. Nasionalisme pun perlu dimaknai ulang—bukan hanya tentang kedaulatan manusia, tetapi juga tentang tanggung jawab terhadap semesta.

Proyek pembangunan berkelanjutan, yang selama ini dielu-elukan, terbukti belum menyentuh akar persoalan. Kebijakan publik masih terjebak pada logika triple bottom line yang timpang—ekonomi kerap menang, sementara sosial dan lingkungan tertinggal.

Selama manusia terus memandang alam sebagai objek penaklukan, maka kehancuran hanyalah soal waktu. Alam yang lama ditindas, pada akhirnya akan membalas—bukan dengan kemarahan, tetapi dengan hukum keseimbangan yang tak bisa ditawar.

Pada titik ini, kita dihadapkan pada pilihan: melanjutkan jalan lama menuju kehancuran, atau merumuskan ulang relasi dengan alam secara lebih bijak. Sebab pada akhirnya, sehebat apa pun proyek hilirisasi dan pembangunan, ia tak boleh mengorbankan hak hidup alam dan masyarakat.

Jika tidak, kita semua—sadar atau tidak—akan terus menjadi bagian dari jejaring kejahatan ekologis yang kita ciptakan sendiri. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.