Anugerah untuk kedua jurnalis ini layak disebut sebagai anugerah kepada jurnalisme itu sendiri. Kita tahu bahwa dalam jaman sekarang ini sangat sulit menjadi jurnalis. Ada banyak orang yang berprofesi sebagai “wartawan” namun tidak semua wartawan mengerti jurnalisme dan mampu menghidupi profesinya dalam standar sebagai jurnalis.
Selain itu, di hari-hari ini pekerjaan sebagai jurnalis mengalami ‘defisit kepercayaan’ (trust deficit). Dengan munculnya media-media baru, khususnya sosial media, orang-orang sekarang disodorkan fakta-fakta alternatif (alternate facts) yang memberi tafsiran lain terhadap satu peristiwa.
Tidak mudah untuk mencerna media di jaman seperti ini. Bahkan jika Anda seorang yang bergelut di dunia intelektual sekalipun. Anda selalu diposisikan berada secara relatif terhadap kebenaran. Apa yang Anda yakini benar — bahkan dibuktikan dengan data-data paling ilmiah sekali pun — akan mendapat tandingan. Tandingan itu pun sama-sama berupa kajian ilmiah.
Dengan demikian, menjadi pintar saja tidak cukup. Melek huruf digital juga tidak cukup. Informasi dan media sekarang ini menjadi medan perang yang paling sengit.
Para penguasa tahu persis ini dan menggunakannya untuk kepentingan menambah atau mengabadikan kekuasaan mereka. Dan para penguasa ini melakukannya tidak dengan kekerasan masyarakat vs. negara.









