Oleh Dino Umahuk, Penulis, Jurnalis Senior dan Sastrawan Nasional
Dari delapan presiden yang pernah memimpin Indonesia, Prabowo Subianto barangkali adalah presiden yang paling subur melahirkan meme. Bukan semata karena kebijakannya, melainkan karena kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri.
“10+6=17”, “10+2=13”, “tanam telur”, “tanam lele”, upah mengupas bawang Rp700 ribu sekilo, panggul satu sak semen Rp100 ribu, hingga celetukan “nyeee, nyee, nyee”—segera berpindah dari podium kepresidenan ke ruang meme. Dari ruang resmi negara ke ruang humor warga. Dari pidato menjadi bahan satire.
Kita boleh tertawa. Tetapi di balik tawa itu ada pertanyaan yang lebih serius: mengapa seorang presiden begitu mudah menyediakan bahan bagi publik untuk menertawakan dirinya sendiri?
Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar salah ucap.
Dalam komunikasi politik, seorang pemimpin bukan hanya menyampaikan pesan; ia sendiri adalah pesan. Setiap kata, jeda, ekspresi dan bahkan kekeliruan dibaca sebagai cermin karakter, kompetensi dan kepemimpinannya. Di era media sosial, sebuah pidato juga tidak pernah benar-benar selesai ketika mikrofon dimatikan. Ia direkam, dipotong, diulang, diberi konteks baru, lalu beredar tanpa batas.









