Nusron

oleh -10 Dilihat

Tetapi publik media sosial tidak selalu bekerja dengan ketelitian seperti ruang penyidikan. Berita tentang perkara hukum segera bertemu dengan ingatan lama tentang sosok Nusron. Potongan wajahnya ketika berdebat, narasi moral yang acap dituturkan, gaya bicaranya, ekspresinya yang dulu membuat sebagian orang sebal, semuanya seperti menemukan panggung baru. Kali ini panggungnya bukan televisi, melainkan TikTok, meme, dan berbagai percakapan di media sosial.

Di situlah tabungan emosi itu menemukan tempatnya. Orang yang selama bertahun-tahun hanya menyimpan kejengkelan terhadap seorang politisi tiba-tiba mempunyai bahan untuk mengeluarkannya. Meme bermunculan, video dibuat, wajah Nusron dipotong dari satu peristiwa dan ditempelkan ke peristiwa lain. Sebagian mungkin sekadar humor. Sebagian lainnya lahir dari rasa puas karena melihat tokoh yang selama ini mereka anggap menyebalkan sedang berada dalam posisi tidak nyaman.

Baca Juga  Gol Cristiano Ronaldo Dianulir, Portugal Tekuk Wales 1-0

Fenomena semacam ini sebenarnya tidak terlalu sulit dipahami. Publik tidak pernah hanya berhubungan dengan seorang pejabat melalui berita tentang jabatannya. Ada sejarah perasaan yang ikut terbawa. Karena itu, ketika seorang tokoh menghadapi persoalan, reaksi terhadapnya sering kali tidak dimulai dari titik nol. Ia datang bersama seluruh kesan yang pernah ditinggalkan tokoh tersebut.

No More Posts Available.

No more pages to load.