Pelaut yang Takut Ombak

oleh -8 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Eggi Sudjana bukan nama kemarin sore. Puluhan tahun ia mondar-mandir di gelanggang perlawanan, dari satu rezim ke rezim lain. Suaranya keras, langkahnya cepat, retorikanya lantang. Publik mengenalnya sebagai aktivis yang seolah tak pernah gentar—atau setidaknya tampak demikian di hadapan kamera.

Ia kerap mengutip ayat-ayat suci, seakan setiap kalimatnya telah diberkahi keberanian. Di mimbar, di layar, di kerumunan, Eggi tampil sebagai sosok yang tampak telah berdamai dengan risiko. Seolah penjara hanyalah cerita orang lain.

Namun sejarah, sebagaimana tabiatnya, selalu senang menguji klaim.

Dalam perkara tuduhan ijazah palsu Joko Widodo, Presiden RI ke-7, Eggi bukan figuran. Ia terlibat sejak awal. Bahkan mendirikan Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), sekaligus memimpin barisan itu. Perlawanan bermula dari pembelaannya terhadap Bambang Tri dan Gus Nur, yang ditahan karena keyakinan bahwa ijazah Jokowi bermasalah.

Baca Juga  Nelayan Desa Kasie Hilang Saat Melaut, Tim SAR Lanjutkan Pencarian Hari Kedua

TPUA lahir sebagai simbol keberanian. Sebagai kapal perlawanan. Sebagai janji bahwa kebenaran, bila sungguh diyakini, mesti diperjuangkan sampai akhir.

Tetapi kapal rupanya tak sepenuhnya siap menghadapi laut lepas.

Ketika polisi menetapkan Eggi Sudjana sebagai tersangka—bersama empat pengurus TPUA lainnya—angin mendadak tak lagi bersahabat. Damai Hari Lubis termasuk dalam daftar itu. Namun setelah ia memilih ikut melipir bersama Eggi menjumpai Joko Widodo di Solo, barisan pun pecah: tiga pengurus TPUA yang ditetapkan tersangka tetap bertahan di kapal, sementara dua lainnya memilih turun sebelum badai benar-benar menghantam.

No More Posts Available.

No more pages to load.