HALMA, LUKA, DAN CINTA
Aku menyebut namamu
seperti menyebut nama ibu
nama leluhurku, nama moyangku.
Di dadamu,
cengkeh menumpahkan aroma masa lalu
pala memeluk angin dari pelabuhan jauh
kelapa menyalakan api dan asap sejarah.
Kini,
tubuhmu dipenuhi logam dan lumpur
katanya demi hari depan
katanya demi kemajuan
katanya demi kemakmuran
tapi siapa yang percaya pada lidah yang pandai bersilat
bibir yang lihai menjilat
siapa yang percaya
kepada tuan yang gila harta
gila takhta,
tuli pada suara hatimu
pada suara leluhur
pada jeritan anak cucu?
Siapa yang percaya
kepada mereka yang cuma tahu makan dan kenyang
yang membuat keputusan tanpa pikir dan zikir
yang menjual hutan dengan utang
yang menyumbat sungai dengan janji pembangunan?
Siapa yang percaya
kepada tuan yang di depan berjanji
di belakang mengingkari?
Sedang kepadamu—tanah yang mereka sebut ibu
mereka durhaka
apalagi kepada kami
yang cuma rakyat biasa,
makan dari keringat sendiri
minum dari luka yang tak sembuh-sembuh.
Kami yang setiap kali
setiap kali ditimpa sedih
cuma bisa menahan perih
dan kembali kepada sunyi
kepada cinta yang sembunyi
kepada keyakinan bahwa masih ada
Ia, sebaik-baik Pengasih.
Siapa yang percaya
kepada tuan yang menganggap dirinya Tuhan
sementara di tanahmu, ibu
kami terus bertanam luka.









