Pelaut yang Takut Ombak

oleh -243 views

Maka terjadilah ironi paling memalukan: mereka yang tidak melompat justru dianggap bersalah, sementara mereka yang lebih dulu menyelamatkan diri tampil sebagai pemilik kapal.

Kapal pun tak lagi diarahkan ke samudra kebenaran. Ia dibawamenepi, diamankan, diparkir rapi di daratan kekuasaan—agar tak lagi diguncang ombak, apalagi badai.

Perlawanan disulap menjadi administrasi.
Keberanian diturunkan pangkatnya menjadi negosiasi.

Dalam logika semacam itu, kesetiaan bukan lagi nilai. Ia hanya berguna selama tidak menimbulkan risiko.
Begitu keberanian mulai berbau penjara, ia segera dicap sebagai pembangkangan.

Maka lengkaplah metafora itu.

Bukan hanya pelaut yang takut ombak, melainkan pelaut yang—demi keselamatan diri—rela menenggelamkan awaknya sendiri.

Eggi Sudjana mungkin hari ini berdiri di daratan dengan pakaian kering.
Kapalnya telah menepi, badai dijauhi, risiko dihindari. Segalanya tampak aman.

Namun laut selalu punya ingatan.

Baca Juga  Deretan Anggaran Jumbo Gubernur Malut Tuai Sorotan di Tengah Beban Utang Daerah

Ia mencatat siapa yang bertahan di tengah gelombang, dan siapa yang meloncat lebih dulu sambil masih sempat berteriak tentang keberanian.

Sejarah pergerakan tidak bekerja seperti pengadilan negara. Ia tidak mengenal SP3. Ia tidak bisa dilobi. Ia tak tersentuh pertemuan senyap di rumah kekuasaan.

No More Posts Available.

No more pages to load.