Di satu sisi, Presiden Prabowo tampak teguh dengan pendiriannya — soal MBG, KDMP, perluasan TNI — namun di sisi lain dia tampak gagap jika menyangkut kekuasaan. Dia tidak berani mengganti Kapolri dan Panglima TNI. Sekali pun dia merasa tidak sejalan dengan bawahan-bawahannya ini. Yang dia lakukan adalah tidak melibatkan mereka.
Hal yang sama juga dia lakukan terhadap menteri-menterinya yang luar biasa banyak itu. Sampai sekarang dia tidak me-reshuffle kabinetnya sekali pun banyak sekali programnya yang tidak jalan. Dia bukan tipe yang akrab dengan menteri-menterinya dan mendengarkan keluhan mereka.
Dalam hal kekuasaan, Prabowo sangat kalkulatif dan transaksional. Itulah yang membuat dia tidak berani berbuat apa-apa. Akibatnya dia mengisolasi dirinya sendiri. Dan dia dikelilingi oleh staf-staf yang sangat tidak berpengalaman.
Kita melihat bahwa Sekretaris Kabinet sekarang lebih besar peranannya dari seorang Menko atau Wakil Presiden (kalau yang ini, ah sudahlah!). Bahkan seringkali terlihat bahwa seorang Menko mendapat arahan dari Sekretaris Kabinet! Gesture tubuh para menteri ketika “menghadap” Sekretaris Kabinet ini memperlihatkan siapa yang sebenarnya berkuasa.
Kita tidak tahu apakah Prabowo menyadari ini atau tidak. Atau, dia menganggap ini sebagai sesuatu yang normal.











