Jika ini terjadi, sungguh miris dan kasihan Prabowo, ia seperti layang-layang yang terus asyik dipermainkan. Selama masih bagus, bisa dimainkan. Sebaliknya jika sudah tak laik pakai jadi tak berguna. Posisinya rentan dan berbahaya, bisa putus diterpa angin kencang atau sengaja dilepas karena sudah puas dinikmati. Bahkan bisa juga dibuang karena sudah tidak berguna dan menjadi barang rongsokan yang mengganggu dan layak disingkirkan.
Jika Prabowo tak bisa keluar dari situasi tersebut, menyerah dan pasrah pada kekuasaan distorsi yang ikut membesarkannya. Maka Prabowo dipastikan menjadi satu dengan Genk Solo. Dengan stigma buruk dan mengerikan pada Genk Solo, dan Prabowo ada di dalamnya. Hanya julukan pengkhianat dan penjahat pada dirinya yang bisa ditinggalkan Prabowo untuk republik ini. Kalaupun ada beberapa terobosan kebijakan pro rakyat, itu tak sebanding dan equivalen dengan pembiaran dan terus nyaman meneruskan kebijakan yang salah dan merugikan bangsa ini.
Kedua, Prabowo memungkinkan untuk mengambil kebijakan yang terarah dan terukur untuk bertanggungjawab dan berorientasi pada kepentingan rakyat, negara dan bangsa.
Apapun risikonya memilih jalan terpisah bertentangan dengan Genk Solo, berarti Prabowo memiliki nyali dan kembali kepada hakekat pemimpin sejati yang rela berkorban untuk negara. Prabowo berpeluang menampilkan kembali watak prajurit pejuang yang pernah dimilikinya. Sikap nasionalisme dan patriotisme Prabowo yang demikian, akan menjadi legasi sekaligus dikenang sepanjang sejarah sebagai salah satu pemimpin besar dan terbaik yang pernah ada di Indonesia.









