Porostimur.com, Sorong – Sejumlah pemuda adat, aktivis, dan elemen masyarakat Papua Barat Daya melakukan aksi spontan dengan menghentikan rapat koordinasi program cetak sawah Kementerian Pertanian (Kementan) di Hotel Vega, Kota Sorong, Selasa (2/6/2026) sore.
Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap proyek percepatan cetak sawah skala besar di Wilayah Adat Malamoi, yang mencakup Kabupaten Sorong dan Sorong Selatan. Massa menilai program tersebut berpotensi mengancam keberadaan hutan sagu sebagai sumber pangan utama masyarakat adat.
Rapat Dihentikan, Massa Masuk Aula
Rapat yang dihentikan merupakan agenda Sosialisasi dan Koordinasi Program Cetak Sawah Tahun 2026 yang digelar Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian Kelas I Jayapura bersama Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan dan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya.
Aksi bermula saat massa merangsek masuk ke dalam aula pertemuan di tengah jalannya rapat. Mereka terdiri dari pemuda adat, perempuan adat, tokoh masyarakat, mahasiswa, hingga organisasi sipil.
Sambil berorasi, massa membentangkan spanduk bertuliskan “Papua Bukan Tanah Kosong”, “Stop Cetak Sawah di Tanah Malamoi”, serta “Sagu itu Ketahanan Pangan Kami”.
Akibat aksi tersebut, rapat koordinasi langsung terhenti dan para peserta membubarkan diri. Massa kemudian melanjutkan aksi di halaman depan hotel.





