Percakapan Hayal Soekarno-Hatta

oleh -82 views

“Demokrasi tanpa kesadaran rakyat adalah ilusi!” tegas Soekarno. “Rakyat dijadikan objek, bukan subjek!”

“Dan politik menjadi mahal,” tambah Hatta. “Yang masuk bukan selalu yang terbaik, tapi yang paling mampu bertahan dalam biaya kekuasaan.”

“Jadi kekuasaan dibeli?” tanya Soekarno tajam.

“Seringkali,” jawab Hatta singkat.

Hening kembali turun. Kali ini lebih berat.

Bayangan berikutnya: hutan yang menipis, sungai yang keruh, kota yang terendam.
“Apa lagi ini?” tanya Soekarno pelan.

“Lingkungan,” jawab Hatta. “Pembangunan sering mengorbankan keberlanjutan.”

“Kita ingin membangun bangsa, bukan menghancurkan tanahnya,” kata Soekarno lirih.

“Pertumbuhan tanpa keberlanjutan hanya menunda krisis,” sahut Hatta.

Soekarno duduk kembali. “Aku mulai melihat pola, Bung. Kita punya struktur, tapi kehilangan jiwa. Kita punya institusi, tapi tidak selalu punya integritas.”

Baca Juga  Hardiknas 2026, Bupati Halmahera Selatan Soroti Pemerataan Guru dan Kualitas Pendidikan

“Korupsi masih sistemik,” kata Hatta. “Bukan sekadar individu, tapi celah dalam sistem, salah tata kelola.”

“Padahal pemimpin itu pelayan rakyat!” seru Soekarno. “Sekarang… apakah mereka masih merasa demikian?”

Hatta menjawab hati-hati. “Sebagian masih. Tapi banyak yang terjebak dalam logika kekuasaan. Jabatan jadi tujuan, bukan alat.”

“Tragis,” gumam Soekarno.

No More Posts Available.

No more pages to load.