“Ziarah ini berkaitan dengan semangat perjuangan pahlawan Thomas Matulessy yang terus kami teladani,” jelasnya.
Obor Pattimura hingga Makan Patita
Selain ziarah, IKEMAL Nabire juga menjadwalkan prosesi pembakaran Obor Pattimura di Tugu Pattimura pada Jumat sore. Tradisi ini dimaknai sebagai simbol api perjuangan yang terus hidup dalam diri generasi Maluku.
“Pembakaran Obor Pattimura menjadi simbol perjuangan beliau yang terus kami pelihara sebagai anak cucu Maluku,” ujarnya.
Edward menegaskan, masyarakat Maluku tetap memegang teguh nilai cinta tanah air, harga diri, serta semangat melawan penindasan yang diwariskan para leluhur.
“Orang Maluku cinta tanah air, tidak mau dijajah, tidak mau direndahkan, dan memiliki harga diri,” tegasnya.
Rangkaian peringatan akan ditutup pada Minggu (17/5/2026) melalui kegiatan makan patita yang dipusatkan di Pantai Jesperi, Kimi, Nabire. Tradisi ini, kata Edward, mencerminkan filosofi hidup orang Maluku tentang persaudaraan dan kesetaraan.
“Filosofi makan patita adalah wujud nyata dari nilai ale rasa beta rasa. Tidak ada sekat antara miskin dan kaya, semua duduk makan bersama sebagai saudara,” katanya.
Ia menambahkan, makan patita menjadi simbol kuat kebersamaan, di mana seluruh perbedaan luluh dalam semangat persaudaraan.




