Pesta Babi dan Suara yang Dibungkam

oleh -57 views

Dan demokrasi, jika lengah, tidak runtuh oleh guncangan besar—melainkan oleh kebiasaan membenarkan hal-hal yang seharusnya dipertanyakan.

Metafora yang Menemukan Tubuhnya

Judul Pesta Babi adalah metafora yang liar sekaligus jujur. Ia menyiratkan kerakusan, pesta yang berlebihan, mungkin juga sindiran terhadap kuasa yang lupa diri. Ia membuka ruang tafsir, memberi penonton kesempatan untuk membaca realitas dengan cara yang tak biasa.

Namun ironi justru lahir di luar layar.

Ketika film itu dilarang, ketika pemutarannya dibubarkan, metafora itu seperti menemukan tubuhnya sendiri di dunia nyata. Ia tak lagi sekadar simbol, melainkan cermin yang memantulkan sesuatu yang terasa terlalu dekat untuk diabaikan.

Apakah yang sebenarnya ditakuti? Gambar-gambar dalam film itu, atau kemungkinan bahwa orang-orang akan mengenali sesuatu di dalamnya?

Baca Juga  Masuk Musim Penghujan, Dinsos Maluku Imbau Warga Waspada Longsor

Sebab larangan, pada akhirnya, jarang berbicara tentang apa yang ditampilkan. Ia lebih sering mengungkapkan apa yang dikhawatirkan akan dipahami.

Demokrasi dan Ketakutan yang Halus

Demokrasi bukanlah bangunan yang kokoh tanpa retak. Ia rapuh, mudah goyah, dan kerap diuji oleh ketakutan—ketakutan terhadap kritik, terhadap perbedaan, terhadap kehilangan kendali.

Namun justru di situlah letak kedewasaannya.

Negara yang percaya diri tidak gentar pada layar. Ia membiarkan warganya menonton, menafsir, bahkan mempertanyakan. Sebab ia tahu: kekuasaan yang sehat tidak runtuh oleh kritik, melainkan diperkaya olehnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.