Sebaliknya, ketika ruang-ruang kecil seperti nonton bareng mulai diawasi dan dibubarkan, ada kegelisahan yang bekerja diam-diam di dalam tubuh kekuasaan itu sendiri. Kegelisahan yang tak selalu diakui, tetapi terasa dalam setiap tindakan yang berlebihan.
Membaca yang Tak Terucap
Pembubaran pemutaran Pesta Babi bukan sekadar peristiwa. Ia adalah teks lain yang bisa kita baca—tentang relasi kuasa, tentang batas yang mulai digeser, tentang siapa yang boleh berbicara dan siapa yang harus diam.
Ia tidak datang dengan teriakan, melainkan dengan isyarat.
Demokrasi tidak mati dalam satu malam. Ia melemah dalam sunyi—ketika satu demi satu ruang ekspresi dipersempit, ketika percakapan diputus sebelum selesai, ketika warga mulai ragu untuk sekadar berkumpul dan berpikir bersama.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sedang berdiri di ambang sebuah ironi yang getir: ketika yang dilarang bukanlah pesta itu sendiri, melainkan upaya untuk memahami pesta tersebut.
Di titik itu, pertanyaan terakhir menggantung, seperti bayangan di layar yang belum sempat menyala:
Siapa sebenarnya yang sedang berpesta, dan siapa yang sedang dipadamkan suaranya? (**)









