Pilkada Halsel dan Pembangunan yang Dirindukan

oleh -196 views
Link Banner

Oleh: M. Husni Muslim, S.Pd.I, M.Pd

Meski sempat mengalami penundaan akibat covid 19, namun Pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah bersepakat untuk melaksanakan Pilkada 2020 pada bulan Desember 2020. Hal itu diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No. 2 Tahun 2020.

Kabupaten Halmahera Selatan merupakan salah satu dari 270 daerah yang akan melaksanakan Pilakada serentak di Tahun 2020 ini. Tentunya kita semua berharap semoga Pilkada tahun ini berjalan dengan aman, damai dan tentunya paslon manapun yang keluar sebagai pemenang nanti harus kita terima dan bekerja sama dalam membangun Halmahera Selatan.

Untuk itu, melalui tulisan yang kusut ini dan dengan penuh kerendahan hati, saya mengajak kepada kita semua agar marilah kita salurkan hak konstitusional kita dengan cara yang baik dan bijaksana dengan mengedepankan beberapa prinsip:

Prinsip yang pertama, saling menghargai perbedaan.

Tidak mustahil bagi Allah untuk menjadikan seluruh ummat ini menjadi satu, (satu agama, satu pemikiran termasuk satu pandangan dan pilihan politik). Tetapi justru melalui realitas alamiyah atau sunnatullah itulah, Allah sengaja menciptakan perbedaan yang tentunya dengan perbedaan itu, bila kita pandai mengelola maka akan mendekatkan kita kepada rahmat Allah Saw.

Allah SWT berfirman:
Artinya: maka kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlan kepada Allah dan rasulnya (maksudnya Alqur’an dan hadits), jika kamu benar- benar beriman kepada Allah dan hari kemudian (Qs. An-nisa ayat 59).

Baca Juga  Sambut Natal, Disperindag gelar Pasar Murah

Ayat ini memberikan kita pelajaran penting bahwa sesungguhnya terkadang kita hanya berbeda dalam dimensi horizontal dan sejatinya kita adalah satu dalam dimensi vertikal.

Prinsip Yang kedua: Hindari berita Hoax

Salah satu penyebab perpecahan yang harus dihindari saat ini adalah menyebarkan dan menerima berita bohong (Hoaks). Hoax’ atau ‘fake news’ bukan sesuatu yang baru, Hoax sudah beredar sejak Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak pada tahun 1439.

Terkait bahaya menyebarkan kabar bohong/ hoax ini, Allah telah tegaskan dalam qalamnya:
Artinya: (Ingatlah) di waktu kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit juga, dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah sangat besar (Qs An-nur ayat 15).

Senada dengan itu, Manusia agung Rasulullah Muhammad Saw pun telah mewanti- wanti kita tentang bahaya berita bohong/ hoax sabdanya:
Artinya: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam. (HR. Imam Bukhari & Muslim).

Senada dengan itu, menurut Albayaan (salah seorang pemangku adat negeri ini) telah menitipkan nilai hidup untuk diaplikasikan dalam kehidupan sepanjang hayat. Nilai itu berbunyi: Kau harus lebe mu jagai lidamu dari pada tiolmu. Sabab pesa tiolmu pabua salah, kau pauli babalik ulang, tapi pesa lidamu yang salah, kani mansia banyak yang jadi sengsara.

Terjemahan lepasnya adalah “Engkau harus lebih menjaga lidahmu dari pada kakimu, sebab jika kakimu salah maka engkau dapat berbalik arah untuk memperbaiki. Tapi jika lidahmu yang salah, maka banyak manusia yang akan jadi hancur dan sengsara.

Baca Juga  NHM Pecat Dua Karyawan yang Viral di Medsos

Prinsip yang ketiga: utamakan & tebarlah hikmah kepada sesama

Semakin banyak yang memahami politik hikmah, maka akan semakin banyak pula kemashlahatan yang akan kita raih. Dengan bahasa yang lain, bahwa antara pemimpin dan masyarakat harus bersama- sama beriorentasi pada politik hikmah yang telah dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW.

Diantara makna politik hikmah adalah setiap manusia wajib menjaga kesucian dirinya sendiri, dia tidak harus menelanjangi dirinya dengan cara keluar dari batasan- batasannya.

Misalnya (mohon maaf) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) harus menjaga netralitasnya, sebagaimana yang tertuang dalam UU nomor 5 tahun 2014, tepatnya pada pasal 9 ayat 2.

Selain itu, makna politik hikmah adalah kesejahteraan dan kesuksesan milik bersama tanpa membeda- bedakan antara golongan yang satu dengan yang lainnya.

Baca Juga  Polda Periksa Adik Wali Kota Ternate, Terkait Sumur Bor

Terkait hal ini, dalam salah satu sastra lisan Moloku Kie Raha yang dikenal dengan dola bololo disebutkan bahwa “Ino fo makati nyinga, doka gosora sebua lawa, om doro yoma mote, fo magoguru se madudara”.

(Artinya: marilah kita bertimbang rasa bagaikan pala dan fulinya, menyatu dan masak bersama serta gugurpun bersama yang dilandasi dengan rasa kasih dan sayang).

Sebagai penutup tulisan ini, saya mengajak kepada kita semua (baik pemilih, Tim Sukses, relawan terutama para pasangan calon yang menang), kita harus tau dan tanamkan dalam benak bahwa, keberhasilan sebuah pemilu tidak diukur oleh berhasil tidaknya pemilu dilaksanakan, atau banyak tidaknya jumlah partisipatif masyarakat. Namun yang menjadi barometer adalah sejauh mana kemakmuran dan kepuasan masyarakat setelah para calon tersebut terpilih menjadi pemimpin.

Selain itu, saya juga berharap kepada paslon yang akan menahkodai Kab. Halmahera Selatan 5 tahun kedepan agar jangan hanya membangun Negeri Saruma dari sisi infrastruktur fisik saja seperti jalan, gedung dan lain- lain. Tetapi negeri SARUMA, negeri bertuan ini juga harus dibangun dari sisi infrastruktur Psikis/ rohani. (*)