Patungnya tak menunjuk arah. Ia tidak menuntun, hanya berdiri sebagai ingatan yang terlalu lama tidak dipanggil. Kota bergerak di sekelilingnya, tapi diamnya lebih keras daripada semua suara yang melintas.
Tak jauh dari situ, kampus berdetak dengan waktu akademik. Mahasiswa datang membawa rencana, lalu membiarkannya berubah menjadi improvisasi. Mereka belajar bukan hanya dari dosen, tapi dari malam panjang yang dingin, listrik yang tiba-tiba padam, dan kawan sekamar yang terlalu sering terlambat membayar sewa kos.
Poka menampung segalanya yang tak tercatat: lorong sempit, warung yang dibangun dari sisa papan, kos-kosan yang saling bersandar karena tiang pondasinya sudah terlalu tua untuk berdiri sendiri. Poka mendewasakan, tapi tak pernah dengan sabar.
Namun tak semua yang tinggal di sana datang untuk gelar atau kelulusan. Ada pula yang sekadar ingin hidup, dengan tenang, tanpa keramaian niat.
Beta salah satunya. Tiga kali pindah kontrakan. Tiga alamat berbeda. Bersama seorang istri yang tak pernah bertanya mengapa rumah kami selalu berpindah.
Di setiap dinding, tumbuh cerita kecil yang tidak pernah diminta menjadi besar. Dua anak masih terlalu kecil untuk memahami apa itu jarak, satu sudah di kelas empat SD—pulang sekolah membawa pertanyaan yang kadang tidak butuh jawaban.









