Poka dan Waktu yang Mengendap

oleh -296 views

Di dapur sempit, ada rutinitas yang nyaris religius: mencuci, menanak, menghela napas tanpa suara. Kami tidak menuntut ruang luas, hanya sedikit waktu yang tak diganggu.

Aku tidak kuliah, tidak mengajar. Tapi setiap hari, kami hidup di antara yang berjalan terlalu cepat dan yang menunggu terlalu lama. Kami menjadi jeda: tidak penting, tapi juga tak bisa dihapus begitu saja.

Dan malam hari, saat lampu mulai menyusutkan kota, tikungan Batu Koneng menyalakan peristiwa kecil yang terus berulang.

Sebuah warung nasi kuning, berdiri tanpa nama, tanpa papan menu. Di situ, makan tidak pernah tentang rasa, tapi tentang tenang. Ikan, nasi kuning hangat, dan sambal yang tidak menjanjikan apa-apa selain kejujuran. Kadang datang sendirian, kadang berdua. Kadang hanya untuk tahu bahwa sesuatu masih tetap ada.

Empat tahun bukan waktu. Ia hanya angka. Tapi di Poka, setiap angka menyimpan bayang: suara anak memanggil dari kamar, sendok bergesek dengan piring, istri yang menutup jendela saat angin mulai masuk tanpa mengetuk. Tak ada momen besar. Tapi justru di situlah semuanya tinggal.

Baca Juga  Trump Peringatkan Netanyahu, Israel Bisa Sendirian Hadapi Iran

Dan kau—yang membaca ini, mungkin pernah ke sana. Dan jika kau merasa pernah diam dalam waktu yang tak menjelaskan dirinya, pernah tinggal di tempat yang mengajarimu perlahan cara menjadi diam, maka mungkin kau tahu: Poka itu bukan tempat.

No More Posts Available.

No more pages to load.