Oleh: Made Supriatma, Peneliti, jurnalis lepas dan visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Saya melihat foto dan video Presiden Prabowo Subianto meninjau kebakaran hutan di Kalimantan Barat. Terus terang, terbit belas kasihan saya. Presiden yang sudah sepuh, berjalan menyusuri semak belukar, menegur sapa petugas pemadam kebakaran — yang dari pakaiannya adalah anggota militer.
Saya berkali-kali mengalami asap pekat akibat kebakaran hutan. Semuanya di wilayah Kalimantan. Dan, saya segera bayangkan bagaimana harus bernapas di tengah udara asap seperti itu. Agak bisa dikurangi kalau kita menggunakan masker.
Namun, presiden tidak menggunakan masker. Saya tidak tahu alasannya. Mungkin juga karena politik. Dia harus tetap memperlihatkan postur tahan banting. Masker adalah tanda kelemahan.
Pikiran yang salah. Presiden menggunakan masker untuk perlindungan dirinya. Hampir pasti, ketika hutan terbakar, penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akan muncul. Masker mengurangi resiko ISPA. Dan, presiden seharusnya memberikan contoh.
Tidak ada gagah-gagahan di sini. Ini adalah soal kesehatan yang sederhana. Melindungi diri. Memberikan contoh. Dan, contoh itu akan melindungi rakyat — yang menurut janjinya akan dia lindungi dengan jiwa raganya.









