Presiden Joe Biden Tuding Rusia Lakukan Genosida di Ukraina

oleh -16 views
Link Banner

Porostimur.com, Washington – Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, menuduh pasukan Rusia melakukan “genosida”, tetapi mengklarifikasi bahwa hal itu tergantung kepada pengacara internasional untuk menentukan tindakan Rusia di Ukraina tersebut.

Presiden Biden pada hari Selasa, 12 April 2022, untuk pertama kalinya menyebut pasukan Presiden Rusia, Vladimir Putin, melakukan genosida di Ukraina. Ia mengatakan bahwa Putin mencoba untuk “menghapus gagasan bahkan untuk bisa menjadi seorang Ukraina.”

“Ya, saya menyebutnya genosida,” tuturnya, dikutip dari Kantor Berita Associated Press (AP).

Hal ini ia sampaikan dalam pidatonya tentang melonjaknya harga BBM di AS. Biden mengatakan kemampuan orang Amerika untuk membeli BBM tidak boleh bergantung pada apakah “seorang diktator menyatakan perang dan melakukan genosida di belahan dunia lain.”

Setelah ditekan tentang penggunaan istilah itu oleh awak media, Biden mengklarifikasi bahwa hal itu tergantung kepada pengadilan untuk menentukan apakah tindakan Rusia di Ukraina – di mana ia dituduh melakukan kekejaman terhadap warga sipil – merupakan genosida. Dia menambahkan bahwa “buktinya semakin banyak.”

Baca Juga  Toyota Rilis City Car 1.000 cc Terbaru, Bakal Jadi Agya Versi Crossover?

“Kami akan membiarkan pengacara memutuskan secara internasional apakah itu memenuhi syarat atau tidak, tetapi tampaknya seperti itu (memenuhi syarat genosida) bagi saya,” katanya. “Lebih banyak bukti muncul dari hal-hal mengerikan yang dilakukan Rusia di Ukraina.”

Di bawah hukum internasional, genosida didefinisikan sebagai niat untuk menghancurkan — secara keseluruhan atau sebagian — suatu kelompok nasional, etnis, ras atau, agama.

Sejak akhir Perang Dingin, Departemen Luar Negeri AS secara resmi menggunakan istilah “genosida” sebanyak tujuh kali. Sebelumnya, Biden menyebut Putin sebagai “penjahat perang” di tengah kemarahan global dan memintanya untuk diadili atas dugaan kekejaman tersebut. Washington juga telah berulang kali menggambarkan kekejaman Rusia terhadap Ukraina sebagai “kejahatan perang.”

1 AS siap kirim senjata ke Ukraina

Dilansir kantor berita Reuters, dua pejabat AS mengatakan bahwa pemerintah AS diperkirakan akan mengumumkan bantuan militer untuk Ukraina pada hari Rabu (13/04) ini.

Baca Juga  Kampanye Zona Satu di Desa Kampung Makian, Ini Penyampaian Paslon No Urut Dua

Dikatakan bahwa AS akan mengirim senjata senilai US$750 juta (Rp10,5 triliun) untuk Ukraina berperang melawan pasukan Rusia. Pengadaan senjata tersebut akan didanai menggunakan Otoritas Penarikan Presiden (PDA) yang memungkinkan Presiden AS untuk mentransfer artikel dan layanan dari saham AS tanpa persetujuan dari Kongres dalam menanggapi keadaan darurat.

Salah satu pejabat mengatakan penentuan akhir masih dibuat tentang komposisi senjata.

Seorang penasihat senior kongres mengatakan bantuan senjata yang akan diumumkan kemungkinan akan mencakup sistem artileri darat berat ke Ukraina, termasuk howitzer.

2 Putin: Operasi militer di Ukraina akan terus berlanjut

Presiden Rusia Vladimir Putin dalam komentar publiknya mengatakan bahwa operasi militer Rusia di Ukraina berjalan sesuai rencana. Ia memperingatkan bahwa serangan yang dilancarkan ke tetangganya itu tak akan berakhir sampai Moskow berhasil. Hal tersebut ia sampaikan dalam kunjungannya ke fasilitas peluncuran ruang angkasa di Kosmodrom Vostochny di Rusia timur, Selasa, 12 April 2022.

Baca Juga  Kirab Merah Putih Warnai Ve’e Kesyang di Maluku Tenggara

”Operasi ini akan berlanjut hingga benar-benar selesai dan memenuhi tugas yang telah ditetapkan,” katanya.

Lebih lanjut, Putin membantah tuduhan bahwa pasukan Rusia bertanggung jawab atas pembunuhan warga sipil di Bucha dengan menyebut kasus itu sebagai “palsu.”

Putin juga menambahkan bahwa pembicaraan damai antara kedua negara menemui jalan buntu. “Artinya, kami kembali ke jalan buntu untuk diri sendiri dan untuk semua,” pungkas Putin.

Serangan Rusia ke Ukraina telah terjadi sejak 24 Februari 2022 lalu. Rusia enggan menyebut invasi mereka sebagai perang, tetapi menyebutnya sebagai “operasi militer khusus” untuk demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina. Ukraina dan sebagian besar dunia telah mengutuk istilah itu sebagai dalih palsu untuk invasi ke negara demokratis

(red/tagas/AP, AFP, Reuters, dpa/dw)